Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Wednesday, August 25, 2004

Like Father, Like Daughter

Benar-benar like father like daughter! Sepulang sekolah tadi, Fay minta dibeliin cilok. Tau kan cilok? Semacam jajanan berbentuk bulat seperti bakso, tapi bahannya dari tepung sagu alias tapioka (Bahasa Sunda: aci). Jadi, cilok itu singkatan aci dicolok (ditusuk) seperti sate.

Fay beli dua, masing-masing harganya cepek (Rp 100), terus dikasih kecap. Nyam, nyam, nyam! Dia doyan sekali. Persis seperti ayahnya! Tapi itu baru pengakuannya. Katanya, sewaktu SD tahun 1970-an, dia doyan sekali cilok. Waktu itu harganya masih gotun (Rp 5). Cilok zaman dulu, kata ayahnya, oleh penjualnya, beberapa di antaranya diisi gajih (lemak) yang gurih rasanya. Nah, barangsiapa yang beruntung membeli cilok berisi gajih, dia mendapat hadiah langsung sebuah buku! Tentu saja cilok itu laris manis. Jadi, kalau cilok itu terlanjur dikunyah, tapi berasa ada gajihnya, terpaksa dimuntahkan lagi, biar dapat hadiah buku. Hiyyy!

Saya sendiri nggak pernah beli yang namanya cilok. Selama ini, saya belum pernah melihat ayahnya Fay beli cilok (Pasti malu. Habis, dijajakannya di SD-SD, yang jajannya tentu anak-anak kecil sebaya Fay).

Hati-hati, cilok juga bisa mematikan! Lho kenapa? Ini kisah nyata. Di Bandung, seorang anak kelas 3 SD tewas kehabisan napas gara-gara tersedak cilok. Si anak itu beli cilok dua, satu dimakan bulat-bulat. Belum sempat ngunyah, si anak itu langsung mengejar teman-teman yang lari meninggalkannya. Cilok itu pun langsung tertelan bulat-bulat dan menyumbat kerongkongannya. Anak itu pun, menggelepar-gelepar, tapi teman-temannya tidak tahu apa yang terjadi. Agak lama, barulah gurunya datang, lalu memukul-mukul tengkuk anak itu. Tapi telat, anak itu keburu tewas. Kasian ya.

Padahal, menurut buku manual, pertolongan pertama pada kasus semacam itu, masukkan jari telunjuk ke kerongkongan korban, biar merangsang dia untuk muntah. Bukan dengan memukul-mukul tengkuknya.



1 Comments:

Post a Comment

<< Home