Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Wednesday, August 15, 2012

Fay Mau Buang Dompet


Sep 25, '11 11:04 AM

Tadi pagi, dari Penggilingan aku pulang ke Sasakpanjang berdua saja dengan Fay. Ayahnya Fay berangkat pagi-pagi sekali, untuk menghadiri penguburan tantenya di Depok. Jadi kami pulang secara terpisah.

Awalnya, di perjalanan tak ada masalah apa-apa. Paling-paling Fay minta jajan saja. Tapi nggak apa-apa, karena Fay sudah dilatih membelanjakan uang sakunya sendiri. Uang saku itu disimpan dalam dompet, dalam tas kecil yang sudah aku siapkan.

Nanti, setibanya di rumah, rencananya Fay akan disuruh mencatatkan berapa saja uang yang sudah dibelanjakan, dan untuk apa saja, beserta saldonya, dalam secarik kertas yang disediakan sekolahnya, Bizsmart. Itung-itung latihan membuat catatan keuangan secara sederhana. 

Setelah ini, Fay akan dibelikan dompet lucu khas anak perempuan, agar Fay makin semangat belajar mengelola keuangannya. Sementara ini, Fay diberi dompet kulit bekas ayah.

Sewaktu kami naik angkot 111, dari Citayam ke Sasakpanjang, seorang ibu yang duduk di sebelah kanan Fay, memberitahuku kalau Fay mau membuang dompetnya ke jalan.

Saat dilihat, benar saja Fay sedang berusaha membuang dompet yang berisi uang Rp 5.000 itu lewat jendela angkot. Dompet itu sudah dikeluarkan dari tas kecilnya. Hiks!

Setelah aku cek tas kecilnya itu, ternyata catatan keuangan yang sudah dibuatnya, sudah tidak ada. Tapi menurut ibu yang tadi memberitahuku, Fay tidak terlihat mengeluarkan kertas, melainkan cuma dompet saja. Waks! Berarti Fay sudah membuang kertas itu sebelum naik angkot ini. Mungkin sewaktu masih di Penggilingan. Sebel!

Mungkin cara seperti ini yang dilakukannya, saat membuang dompet kecil untuk tempat pembalut dan celana dalam cadangannya, ketika di sekolah.

Labels: , , ,

Anaknya Bayar Bu?


Sep 11, '11 11:40 AM

Minggu sore, kami jalan-jalan ke ITC Depok untuk membeli beberapa barang keperluan buat Fay. Kami bertiga naik motor sampai Citayam, lalu menitipkan si Tornie di penitipan motor. Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot 05.
Pulangnya kami menyeberang lewat jembatan penyebrangan dan nyegat angkot dari depan Plaza Depok. Di angkot 05 menuju Citayam itu kami duduk berjejer. paling ujung belakang Fay, disusul aku, lalu suamiku. Setelah itu, penumpang lainnya naik satu per satu sampai angkot penuh.
Di jalan raya Citayam, saat ada seorang penumpang akan naik, tiba-tiba sopir bertanya (entah ditujukan pada siapa): "Bu, anaknya bayar gak?". Biasanya pertanyaan itu diajukan pada penumpang yang bawa anak kecil untuk memastikan anak itu dihitung mengambil tempat duduk sendiri dan membayar penuh. Kalau tidak, anaknya biasanya dipangku oleh orangtuanya.
Aku tengak-tengok, memperhatikan para penumpang satu-persatu. Cuma ada seorang ibu muda yang membawa balita, dan itupun sudah dipangkunya. Ketika aku melirik Fay, barulah aku tersadar, bahwa yang dimaksud sopir adalah Fay. Wakks..
Spontan aku menjawab (karena menduga yang dimaksud di sopir itu Fay): "Ya iyalah bayar, anaknya udah gede gini, tinggian dia lagi!" Gimana si abang sopir itu, gak liat apa segitu menjulangnya Fay!

Labels: , , ,