Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Thursday, June 30, 2005

Lucu, Lucu


Semalam, saya dan ayahnya ketawa-tawa (ketawa kan sehat :P), ketika membahas hasil THB Fay. Maaf, bukannya membicarakan keburukan anak sendiri, melainkan kami bangga dengan Fay, yang dari hari ke hari memberikan "warna" dalam hidup kami. Fay memang belum mengerti sebagian besar makna kata-kata. Jadinya, saat menjawab pertanyaan (multiply choice dengan tiga pilihan: a, b, dan c), terjadi kelucuan-kelucuan yang sebenarnya dia tak mengerti.

Misalnya saja. Pada mata pelajaran PKPS (dulu: IPS). "Yang melahirkan kita adalah..." Fay jawab "ayah". Terus, untuk soal "mendapatkan hadiah adalah peristiwa...", yang dijawabnya, "menyedihkan".

Pada mata pelajaran Sains. Soal "Pensil, buku, penghapus adalah benda..." Fay jawab. "cair". Tapi, untuk soal "Bangun tidur kuterus..." Fay benar menjawabnya, "mandi". Ia tidak memilih dua pilihan lainnya, "makan" dan "minum" (padahal, ketiganya bisa saja benar, tergantung kebiasaan si anak). Mungkin, Fay sudah hapal kata "mandi" itu dari lagu "Bangun Tidur Kuterus Mandi".

Memang, terasa sekali, kosa kata Fay bisa bertambah kalau terus diasah. Setiap saat diajak dialog. Kalau salah atau ada kata-kata yang kurang, kita luruskan.

Jadi, kalau Fay sekarang minta sesuatu dengan menarik tangan atau berteriak, kami suruh Fay untuk bicara. Meski bicaranya masih standar (baru mengungkapkan keinginannya saja), kami sangat bersyukur, karena bagaimana pun, ini adalah sebuah kemajuan.

Foto: stockscotland.com

Tuesday, June 28, 2005

Hasil THB Fay


Barusan Fay masuk sekolah sebentar saja. Setelah THB, tak ada lagi pelajaran, tapi Bu Guru hanya membagikan hasil THB. Mau tau hasilnya?

Mata Pelajaran Nilai
Pendidikan Agama Islam 6,3
Matematika 7,2
Sains 5,7
Bahasa Indonesia 5,7
Bahasa Sunda 9,4
PKPS 8,2

Selama THB Fay suka main isi soal multiply choice seenaknya, tanpa membaca pengantar/ceritanya (lagi pula Fay belum ngerti maknanya). Makanya tak heran, ada angka 5,7 di dua mata pelajaran.

Bahasa Sunda dapat 9,4? Saya tidak kaget, karena selama THB, guru pengawasnya memberitahu anak-anak kunci jawabannya. Kemungkinan ini dilakukan karena mata pelajaran ini paling sulit, terutama bagi anak-anak yang tidak ngerti bahasa Sunda. Saya yakin, di daerah Bogor pinggiran ini, anak-anaknya tidak ada yang ngerti bahasa Sunda, karena bahasa ibu mereka bahasa Betawi pinggiran.

Jadi, menurut saya, mata pelajaran ini sudah tidak relevan lagi diajarkan di daerah Jakarta dan sekitarnya (meski masuk wilayah Jawa Barat) --yang notabene bukan penutur bahasa Sunda.

Image: PR Kecil Online

Monday, June 27, 2005

Menangis dan Tertawa


Menangis dan tertawa, bagi Fay, tipis sekali bedanya. Entah kenapa, tanpa sebab Fay menangis, begitu pula ketawa. Meski kami penasaran, kami tak bisa menanyainya, sebab Fay belum pandai bercerita apa yang dirasanya.

Saat menangis, Fay menangis dengan tersedu-sedu, dengan kesedihan mendalam. Sebaliknya, saat tertawa, Fay ketawa dengan lepas, seperti menemukan sesuatu yang sangat lucu. Mudah²an dokternya tahu jawabnya.

Friday, June 24, 2005

Susah Tidur

Fay semalam susah sekali tidur. Kata ayahnya, Fay tidur sekitar pukul 2 dinihari! Saya sendiri sudah tidur duluan, sekitar pukul setengah satu. Sebelum akhirnya tertidur, Fay terus gelisah, mulai dari minta majalah, menggambar, hingga BAB --yang ternyata cuma udara doang.

Ternyata, setelah perutnya diketuk-ketuk, perut Fay kembung. Pantas susah tidur. Kata ayahnya, Fay sempat minta makan, sekitar pukul 01.30. Setelah makan dengan dua potong tahu yang digoreng dadakan, barulah Fay tenang, dan lambat laun tertidur.

Paginya, Fay dibelikan Waisan, obat maag serbuk. Fay suka sekali makan Waisan yang rasanya rada-rada manis itu. Tapi saya musti menyembunyikan bungkusan lainnya, biar dia tidak membuka dan memakannya sendiri, tanpa memerhatikan dosisnya.

Thursday, June 23, 2005

Tinggi Fay

Tinggi Fay sewaktu diukur tahun lalu 123 sentimeter. Mungkin sekarang sudah bertambah lagi sekitar 1-2 senti. Itu kelihatan dari jangkauan tangan Fay pada selot (palang) pintu dapur yang tadinya harus memakai bantuan kursi, sekarang sudah terjangkau.

Juga benda-benda lainnya. Kalau mau mengambil sesuatu dari atas lemari, bahkan dari atas kusen pintu setinggi 1,85 meter, Fay bisa mengambilnya sendiri dengan kursi kecil, bahkan meja kecil untuk belajar.

Pokoknya, benda yang bisa saya jangkau dengan kursi, Fay pun bisa melakukannya.

Selain itu, saya tidak bisa menyimpan stok barang atau makanan yang disukainya. Seperti pensil untuk persediaan yang habis dirautnya satu per satu. Juga kami tidak bisa menyimpan mi instan atau telur di kulkas, karena dia akan minta dan minta lagi. Lebih baik, kalau perlu baru beri ke warung.

Urusan sepatu, kaki Fay juga semakin hari semakin besar. Sekarang ukuran kaki Fay sudah 31-32. Sedangkan saya sendiri 37. Kayaknya beberapa tahun lagi, ukuran kaki kami bisa sama. Begitu pula tinggi badan. Saya yakin, tinggi Fay akan melampaui tinggi saya.

Memori Fay

Saya sering melihat photographic memory Fay cukup bagus. Seperti contoh semalam. Di pintu, ayahnya menemukan "stiker" yang dibuat Fay, berupa sepotong kertas bertuliskan "Islam Inside" lengkap dengan logo lingkaran terputus (plesetan dari logo "Intel Inside" pada komputer). Ayahnya heran, dari mana Fay mengetahui itu semua?

Ternyata saya baru ingat. Di tempat terapinya, pada loker punya Bu Wati ada stiker "Islam Inside" itu. Fay rupanya sudah "merekamnya", lalu membuat dan menempel sendiri "stiker" itu.

Selain itu, kalau ada benda yang tidak pada tempatnya, ia selalu ingat. Seperti waktu salep Nutrimoist dibawa ayahnya ke kantor. Ketika pulang kantor, Fay --seperti biasa-- membongkar tas ayahnya dan menemukan salep itu. Lalu, Fay menyimpannya kembali ke kotak obat.

Kejadian lucu (pernah diceritakan di blog ini), sewaktu saya menggunting kedua mata foto Feby Febiola di kalender. Dia menggantinya dengan "mata buatan" dengan cara menggambarnya di selembar kertas, lalu menempelkannya. :D

Tuesday, June 21, 2005

Ketinggalan Dompet

Fay sejak kemarin ikut THB (Tes Hasil Belajar). Hari ini pelajarannya, Sains dan Bahasa Indonesia. Tapi hari ini, saya sempat sangat waswas, ketika merogoh saku, dompet yang biasanya ada di saku, tidak ada!

Saya pikir, dompetnya jatuh ketika tadi pagi didrop ayahnya pake motor. Atau... ketinggalan? Saya yakin saja, dompetnya ketinggalan di rumah.

Tapi ada masalah. Fay kalau ke sekolah tidak pernah tidak jajan. Minimal minum teh botol. Sepulang sekolah, kami jalan kaki ke arah rumah (sekitar 500 meter). Begitu melewati toko, saya bilang pada Fay, "Ibu nggak bawa uang sekarang, jangan beli teh botol ya?" Ternyata Fay mengerti.

Masalah lain, untuk mencapai gerbang kompleks dari depan sekolah, kami biasanya naik angkot sekitar 5 menit. Tapi, lagi-lagi, Fay mengerti ibunya lagi nggak bawa duit. Jadi, ia rela saja diajak berjalan kaki. Sehat kan?

Sesampainya di rumah, saya cek... alhamdulillah! Memang dompetnya tertinggal di atas meja. Jadi, hari ini, kami pergi ke sekolah tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Kembali ke THB, Fay waktu mengerjakan soal Sains tidak terlalu masalah. Semalam, ayahnya melatih Fay dengan lisan soal fungsi-fungsi indera manusia. Misalnya, mata gunanya untuk melihat, telinga gunanya untuk mendengar, kulit gunanya untuk meraba, dll.

Tapi, begitu menginjak pelajaran Bahasa Indonesia, Fay sudah mulai kehilangan konsentrasi. Soal cerita yang seharusnya dibaca dulu sebelum mengisi soal multiple choice, ia lewatkan saja. Ketika Fay mengisi pertanyaan: "Saya ke kebun binatang hari..." Fay langsung aja mengisi "Senin". Padahal seharusnya "Minggu", sesuai dengan ceritanya.

Begitu pula dengan pertanyaan: "Bunga matahari warnanya..." Fay isi "merah". Padahal, seharusnya "kuning" kan? Maklum saja, di kebun kami tidak ada bunga matahari. Dan Fay di tempat lain pun belum pernah melihat bunga matahari aslinya. Jadi dia belum tahu. :D

Friday, June 17, 2005

Sensitif

Entah kenapa, Fay sering melontarkan (bisa diartikan meminta) kata "sensitif", baterai, dan mitu baby. Satu-satunya produk yang diiklankan di televisi bernama "sensitif" adalah merek test pack kehamilan. Baterai saya kurang ngerti. Sedangkan mitu baby adalah merek tisu basah.

Seperti tadi pagi, Fay kembali meminta ketiga benda itu pada ayahnya. Tapi, ketika dibelikan sebuah baterai kecil (sekalian buat pengganti baterai jam beker), Fay menolaknya. Ternyata, bukan baterai yang itu. (jadi apa?)

Sedangkan kalau sensitif dan mitu, cukup diiyakan saja. Soalnya kami tidak memerlukannya. Soal tisu kan, nggak usah tisu basah, tapi ada tisu kering kemasan kecil.

Belakangan, memang kosa kata (vocabulary) bertambah tanpa disangka-sangka. Sewaktu Bu Wati --terapis Fay-- menyuruh Fay menyebutkan sekaligus menuliskan dua nama buah-buahan, dengan segera Fay menjawabnya dengan "strawberry" dan "anggur". Tapi, saat dituliskan, Fay menulis "strawberry" (dengan ejaan benar) dan ... "grape"!

"Lho, Bu. Fay diajarin Bahasa Inggris?" tanya Bu Wati pada saya.
Saya jawab, sama sekali tidak diajari. Sebab sesuai dengan pesan Dokter Ika, Fay jangan dulu diajari bahasa selain Bahasa Indonesia, biar tidak kebingungan.

Jadi? Fay kemungkinan besar tahu bahasa Inggrisnya anggur (grape), dari poster gambar buah-buahan yang pernah dimiliki Fay. Di sana selain gambar buah, juga ada namanya dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. :D

Wednesday, June 15, 2005

Belajar Pedas

Belajar pedas di sini maksudnya, belajar makan pedas. Fay memang anti-pedas. Makanan pedas sedikit (menurut ukuran kita, ortunya), langsung minta minum, lalu kapok, nggak mau makan lagi.

Tapi belakangan, Fay saya latih makan makanan agak pedas. Mulai dari satu cabe, lalu dua dan tiga!

Ceritanya, kesukaan Fay kan kerang hijau. Saya sering memasakkan kerang untuknya. Awal-awal sih, tidak dikasih cabe sama sekali. Sebab "radar" di lidah Fay peka sekali. Pedes dikit, dia langsung bilang, "minum, minum!"

Terus beberapa hari terakhir ini, kalau masak kerang, saya bubuhi cabe yang dihaluskan. Mulai dari satu, sampai sekarang ini tiga. Fay ternyata tidak komplain.

Ahad kemarin, waktu ayahnya beli siomay yang kami makan bareng-bareng, Fay diberi bakso tahu yang tidak terkena bumbunya (yang ternyata pedes). Lalu ayahnya memberi sepotong kecil siomay yang terkena bumbu sedikit, dan ternyata Fay jalan terus.

Memang, anak musti dibiasakan makan pedes sedikit-sedikit. Biar tidak selalu dibuatkan masakan khusus (versi tidak pedes) buatnya, melainkan bisa makan bareng. Biar kayak anak Padang --yang dilatih makan pedes sejak balita. (Fay kan anak Padang juga, biar separuh, dari ayahnya). :D

Tuesday, June 14, 2005

Doyan "Martabak"

Entah dari mana Fay menamakan telor dadar sebagai "martabak", soalnya saya atau ayahnya sudah lama sekali tidak membelikannya martabak (telor). Tapi, sewaktu minta telor dadar (gara-gara lihat telor di kulkas), Fay bilangnya, "martabak, martabak".

Padahal, telor dinyatakan sebagai salah satu makanan alergi bagi Fay. Tapi apa boleh buat. Kadang-kadang kami (ortunya) ingin variasi juga. Salahnya, telornya distok di kulkas, tidak beli mendadak dari warung.

Jadinya, kemarin Fay dua kali (siang dan sore), minta "martabak". Lalu, pagi tadi, Fay minta lagi "martabak". Tapi saya coba luruskan dengan mengatakan pada Fay. "Fay, ini namanya telor dadar, bukan martabak.

Tapi dasar Fay, tetep aja dia menyebutnya "martabak", sambil ketawa.

Monday, June 13, 2005

Keep Busy

Mengasuh Fay harus pandai-pandai membuatnya sibuk. Misalnya, mengajaknya menggambar, menulis atau membaca. Atau membuka-buka majalah. Sebab kalau tidak, bawaannya ngajak ke luar terus. Yang kalau dalam bahasanya, "Ayah (atau Ibu), Fay mau jajan. "Jajan" yang dia maksud bukan (hanya) jajan di warung atau toko, tapi bisa pula jalan-jalan. Maklum, vocab-nya masih terbatas. Kalau sudah memaksa, lalu disuruh bicara, kalimat yang keluar pasti kalimat di atas.

Tapi ternyata, kemarin muncul juga kalimat lainnya. Di rumah kakeknya, dia senang menarik-narik gordeng di pintu, sampai relnya bengkok ke bawah. Lalu, ayahnya meluruskannya lagi. Saat rel gordeng itu bengkok lagi karena ditarik, Fay meminta ayahnya meluruskannya lagi dengan kata-kata, "Ayah, Fay mau pintu." Saat ayahnya kebingungan, pintu mana yang "musti diapakan", Fay menunjuk pada gordeng yang rel di atasnya bengkok. Ternyata, pintu yang dia maksud gordeng di pintu.

Setelah diberitahu bahwa itu namanya gordeng, Fay menambah lagi perbendaharaan katanya dengan "gordeng". Ia lalu mengganti kata "pintu" dengan "gordeng", kalau ia minta tolong lagi membetulkan rel gordeng itu. Alhamdulillah, meski dengan susah payah mengenalkan kata-kata pada Fay, ternyata dia sedikit demi sedikit mau belajar. Yang penting, keep her busy. Kalau nggak, jajan lagi, jajan lagi. :P

Friday, June 10, 2005

Ditulis, Dibaca, Sama Aja

Fay sudah lancar membaca, meski belum mengerti maknanya. Semua kata atau kalimat dibaca sesuai dengan penulisannya. Kelucuan terjadi kalau Fay membaca teks Bahasa Inggris. Dengan innocent-nya, dia membaca persis apa yang dituliskannya.

Misalnya, program di Metro TV -- Do You Know? dia baca dengan /do/you/kenow/ Terus dia menambahkannya; sebaiknya anda tahu. Biar pun dikasih tau cara baca yang sebenarnya, tetep aja dia baca sesuai dengan penulisannya.

Dokter Ika --dokternya Fay-- memang tidak menyarankan Fay diajari bahasa lain selain Bahasa Indonesia. "Biar nggak bingung," katanya.

Maklum, bicara dalam Bahasa Indonesia sedang dalam proses belajar, terutama memahami makna kata per kata. Sekarang juga sedang berlatih menyampaikan keinginan dengan kalimat lengkap dan baku. :)

Wednesday, June 08, 2005

Dua Sepupu

Fay punya dua sepupu. Anak kakak saya yang baru pindah dari Balikpapan, dan kini tinggal di Bandung. Namanya, Ika (9 tahun) dan Putri (5,5 tahun). Mereka mau ngajak main Fay, meski Fay cuek. Tapi, di rumah Apih (Kakek), tampak sekali, Fay gembira di antara saudara-saudara yang hampir sebaya itu. Fay mau menunjukkan hasil karyanya berupa coretan dan tempelan gambar-gambar di dinding.

Lucunya, Putri, yang usianya jauh di bawah Fay, malah "ngemong" seperti ke adiknya. Misalnya, ia gemes dengan pipi Fay yang gembil. Sesekali pipinya dicowelnya. Fay sih ketawa-ketawa aja.

Atau kakaknya, Ika, yang turut menjaga Fay selagi lari-lari di bangsal rumah sakit, biar larinya tidak kejauhan dan susah diawasi.

Kapan-kapan, Fay main ke rumah Ika dan Putri di Bandung ya?

Beredar Terus

Hari Sabtu kemaren (4/6), Apih (Kakek) Fay dioperasi tumor di leher, di RS Islam Jakarta. Saat seharian (sebetulnya, setengah hari) menunggu Apih keluar dari kamar operasi, Fay tidak mau diam. Dari kamar perawatan di lantai 2 minta berjalan-jalan keliling ke ruang tunggu OK (ruang operasi). Maklum, di sana ada mini market.

Begitu tiba kembali di ruang perawatan, belum semenit duduk, Fay menarik-narik tangan ayahnya, minta jalan kembali. Ayahnya sampe kecapean, karena tidak bisa beristirahat (duduk) barang semenit-dua menit. Begitu pula saya, yang bergiliran dengan ayahnya mengajak jalan Fay, sudah kecapean. Tapi anak itu, tak kunjung berhenti.

Meski banyak kerabat saat itu, tak seorang pun (kecuali kami ortunya) yang sanggup menangani Fay.

Yah, begitulah, meski saat tubuh lunglai dan stok kesabaran habis, kita dituntut untuk tetap tahan mental, tahan banting.

Friday, June 03, 2005

Susu Kesukaan Fay

Kemarin Fay bolos sekolah. Masuk pagi, tapi bangun kesiangan. Maklum, jam tiga kurang (dinihari), Fay sudah bangun dan bugar. Ia lalu berolahraga (maksudnya, loncat-loncat di kasur). Tentu saja mengganggu kami yang lagi tidur. Disuruh tidur lagi, susahnya minta ampun. Akhirnya, baru tidur lagi menjelang subuh. Tentu saja, bangun pagi jadi susah. Hampir jam delapan dia baru bangun. Padahal sekolah jam setengah delapan.

Menjelang ayahnya pergi ke kantor, Fay minta diajak sedikit jalan-jalan dengan motor, berdua dengan ayahnya. Ternyata, di jalan Fay minta dibelikan susu kemasan (yang ada rasa strawberry, coklat dan mocca) dari tukang susu yang pakai becak.

Ayahnya lalu memberikan dua cup, rasa coklat (pilihan Fay) dan mocca (buat saya). Sesampainya di rumah, ayahnya pamitan, susu dibawa Fay masuk ke rumah. Setelah ayahnya pergi, saya perlu meneruskan pekerjaan tertunda: mengubah lay-out ranjang dan rak di kamar tidur. Tinggal pekerjaan mengepel lantai di bekas kolong tempat tidur --yang kini bergeser dari posisi awal.

Selesai beres-beres, saya perlu beristirahat sejenak, lalu teringat susu yang dibelikan ayah. Ternyata... apa yang terjadi? Susu itu dua-duanya sudah habis diminum Fay. Fay sendiri cuek, innocent (seperti biasa). Susu itu memang kesukaan Fay. Ya, sutra(sudah)-lah, gpp. Yang penting diminum, bukan dibuangnya. Jadi tidak mubazir. Akhirnya, sambil ketawa-ketawa, saya menceritakannya pada ayah lewat telepon. Fay, Fay. :)

Wednesday, June 01, 2005

Membingkai Karya

Salah satu karya Fay berwarna cerah (repro: edo)Sejak dua minggu lalu, guru Fay sudah menugaskan anak-anak kelas 1 untuk mengumpulkan karya (gambar, tempelan, dll) yang dibingkai. "Karya sendiri. Membingkainya boleh ditolong Ibu atau Bapak," kata Bu Guru.

Karena belakangan Fay lagi males menggambar (malah suka minta ayahnya membuatnya gambar, sesuai "orderannya"), kami cari-cari gambar yang sudah dibuatnya beberapa waktu lalu.

Dari salah satu buku gambar, saya menemukan gambar dua rumah yang digambar Fay pakai crayon. Seperti gambar-gambar lainnya, ciri khas Fay adalah goresan crayon yang tebal dan berani. Tapi gambarnya yang ini, pilihan warnanya gelap. Misalnya, dinding rumah coklat tua, atap rumah merah bata. Tapi gpp, yang penting karya orisinal Fay.

Lalu, ayahnya membuatkan bingkai sederhana dari tripleks selebar tiga sentimeter, plus tutup di bagian belakang dengan bahan yang sama. Tak lupa, ayanya membuatkan gantungan dari potongan kabel listrik.

Setelah dibawa ke sekolah, ternyata karya-karya teman Fay bermacam-macam. Ada gambar dari tempelan daun-daun pada karton dengan bingkai bambu yang diraut, ada juga tempelan kertas berwarna pada karton dengan bingkai yang sederhana.

Mulanya, Fay enggan menyerahkan karyanya pada Bu Guru. Tapi selagi dia asyik menggambar, karya berbingkai itu saya serahkan pada Bu Guru. Akhirnya, semua karya anak-anak kelas 1 itu, oleh Bu Guru dipajang di dinding kelas.