Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Tuesday, June 12, 2018

Fay tiba-tiba saja...


KEMARIN Fay bertugas mengepel. Selesai mengepel lantai atas dan tangga, Fay tidak lanjut mengepel lantai bawah, melainkan duduk di kursi kerjanya, tempat dia biasa menganyam. Alat pel kemudian Ibu ambilalih untuk mengerjakan bagian Ibu (kamar atas, kamar bawah, ruang tamu, ruang makan, dan teras).

Waktu Ibu mengepel teras, terdengar suara mug berdenting. Wah, suara mencurigakan. Ibu pun cepat-cepat lari ke dalam, dan memergoki Fay minum air putih dari mug, lalu buru-buru meletakkan kembali mug di rak gelas -tanpa mencuci terlebih dulu. Nah, Fay curi-curi minum padahal lagi puasa (lebih tepatnya, latihan puasa, karena dia belum ngerti juga esensinya).

Hari ini, Ibu tidur siang. Fay sedang menganyam ditemani Ayah. Melihat Fay sedang anteng menganyam, Ayah pun keluar menengok tanaman. Tiba-tiba Fay membuka kulkas dan langsung memakan ayam ungkeb plus nasi yang sudah dingin di kulkas. Duh!

Setelah bertahun-tahun mengajari Fay berpuasa, Fay tidak paham juga apa itu puasa. Mungkin dia menganggap puasa sebagai sesuatu yang berat. Hiks.

Tapi Ibu harus mengingat lagi tujuan mengajari Fay berpuasa: agar terbiasa tidak makan dan minum di tempat umum saat bulan Ramadan. Karena sejatinya Fay tidak punya kewajiban mengerjakannya, mengingat autis yang disandangnya. Meski sudah dewasa, tapi tidak memiliki kesadaran sebagaimana layaknya orang dewasa.

Labels: , , ,

Monday, January 22, 2018

Fay dan e-Money

 Bagaimana Fay bisa tahu tentang kegunaan e-card/e-money (kartu yang bisa digunakan sebagai kartu Indomaret sekaligus e-toll), padahal dia belum pernah diajari? Masih misteri. Begini ceritanya.

Selasa, 16 Januari lalu, Kakek dan Nenek Fay dari Bandung datang menginap. Keesokan harinya, mereka bersiap-siap untuk pulang. Pintu-pintu terbuka, demikian pula pintu gerbang, karena mobil mau keluar. Semua sibuk mempersiapkan kepulangan mereka. Ibu membantu menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pulang, demikian pula Ayah, yang sedang di kamar mandi mencuci tampolong (apa ya bahasa Indonesianya?). :P

Saat itu, Fay sedang asik sendiri dengan tas anyaman tali kurnya. Mengetahui orang-orang sedang sibuk, dia mengalungkan e-card alias kartu Indomaret ke lehernya. Ibu melarangnya, karena kartu itu milik Ayah, tapi Fay keukeuh, dan Ibu nggak mau ribut-ribut karena di rumah sedang banyak orang, termasuk Uwa-nya Fay. Tiba-tiba dia mengambil salah satu tas anyaman dari bungkus kopi dan lari ke mobil Kakek, lalu memasukkannya.

Aku tak berusaha mencegahnya, karena memang kebiasaannya memaksa memberi oleh-oleh karyanya kepada mereka yang berkunjung ke rumah. Tapi kali ini beda. Beberapa menit kemudian, ada seorang tetangga yang melaporkan kalau Fay lari ke arah lapangan voli.

Aku berusaha mengejarnya. Kulihat Fay sudah jauh. Aku terus berusaha mengikutinya dan tak melepaskan pandangan darinya, meski jaraknya sudah ratusan meter di depan. Tak lama kemudian, Ayah muncul mengejar Fay dengan motornya. Aku pun balik kanan ke rumah, untuk meneruskan melakukan persiapan kepulangan Kakek dan Nenek.

Beberapa puluh menit kemudian, Fay pulang dibonceng Ayah. Fay ternyata lari menuju Indomaret di dekat gerbang komplek, yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Menurut Ayah, Fay berbelanja, tepatnya memborong barang-barang di Indomaret, tanpa bisa dicegah karena keadaan tidak memungkinkan. Fay secara "kalap" mengambil apa saja yang diminatinya, seperti cokelat, eskrim, sabun mandi, kornet, fetucini, dll, padahal hanya berbekal uang Rp 5 ribu yang diambilnya dari dompet Ibu.

"Fay, uang Fay kan hanya Rp 5 ribu. Tidak cukup," kata Ayah, berusaha menerangkan. Tapi percuma, Fay terus mengambili barang. Ayah hanya bisa mengikuti dan sebisa mungkin mengganti barang yang ukurannya besar dengan yang paling kecil (agar lebih murah). Setelah puas mengambili barang, Fay digiring ke kasir untuk membayar.

Dari balik bajunya, Fay mengeluarkan kartu Indomaret. (Biasanya kartu ini digunakan Ayah untuk naik KRL dan Bus TransJakarta, serta sesekali sebagai kartu tol). Whattt? Dari mana dia tahu kalau belanja di Indomaret bisa memakai kartu Indomaret/e-money, padahal mengenal transaksi sederhana di warung saja dia "belum lulus"?

Kami merasa tak pernah mengajarinya bertransaksi dengan kartu, demikian pula dengan terapisnya. Satu-satunya kemungkinan media Internet, yang sering diaksesnya. Fay, Fay.....

Labels: , ,

Thursday, January 05, 2017

Terima Kasih Fay

Jam 2 dinihari Fay menggedor-gedor pintu kamarnya, hanya untuk menanyakan jam berapa sekarang. Setelah dijawab dan disuruh tidur lagi, dia pun tenang. Jam 3 diulanginya lagi, juga jam 4 lebih, saat azan subuh berkumandang. Barulah pintunya dibukakan.

Subuh-subuh, Fay langsung mandi dan berpakaian rapi. Dia siap-siap berangkat terapi ke Harmoni, yang jadwalnya memang tiap hari Kamis. Rupanya,  dia menunggu-nunggu momen ini,  karena Kamis lalu, berhubung libur akhir tahun, tidak ada terapi di Harmoni.

Paginya, setelah sarapan, ayahnya baru bilang ke Fay kalau hari ini Fay tidak bisa diantar ke Harmoni, karena ayah sakit (sejak beberapa hari lalu, memang ayahnya Fay sakit), dan mau ke dokter. Fay menjawab, "ya".

Tadinya, kami pikir, Fay tidak paham meski menjawab "ya". Biasanya dia akan mendesak untuk pergi ke Harmoni, apapun alasannya. Tapi pagi ini tidak. Dia ke atas untuk mengganti kembali pakaiannya dengan pakaian sehari-hari.

Lalu dia minta ibu menyiapkan alat pel, karena Fay mau ngepel.

Terima kasih Fay atas pengertiannya.

Muaach! Ibu sayang Fay. <3 

Labels: , , , ,

Friday, July 22, 2016

"Hulk Girl"

Lebaran tahun lalu (1436H), Ibu dan Fay tidak pulang kampung ke rumah kakek-neneknya Fay di Majalaya, Kabupaten Bandung. Penyebabnya, tahun sebelumnya Fay bikin ulah di Terminal Leuwipanjang Bandung, juga di penitipan motor di Citayam. Fay mogok tak mau pulang, sampai harus dipaksa naik kendaraan untuk pulang.

Pengalaman itu, dan juga tahun-tahun sebelumnya (polanya sama, Fay semangat untuk pulkam, tapi menolak untuk kembali ke rumah setelah libur lebaran usai), cukup membuat kami ortunya trauma membawa Fay pulkam tanpa membawa kendaraan sendiri.
 
Kemudian pada 1436 itu, hanya ayahnya yang pulkam, sedangkan saya dan Fay tetap di rumah Sasakpanjang. 
 
Rupanya hal itu cukup membekas dalam benak Fay. Dan itu kami manfaatkan sepanjang tahun, kalau dia mau merusak atau berbuat yang tidak layak, cukup diancam tidak akan dibawa berlebaran ke Majalaya.
Sayangnya, setelah lebaran usai, seperti lebaran tahun ini, 1437, Fay tak mampu menahan hasrat merusaknya. 
 
Semalam dari kamar Fay terdengar suara-suara aneh. Saat itu sudah dinihari. Ayahnya terbangun, lalu mengecek ke kamarnya. Ternyata, Fay sedang membuang sesuatu melewati jendela kamarnya yang terbuka. 
 
Dan... Baju dan celana trainingnya sudah koyak, bahkan compang camping. Persis seperti Hulk atau tepatnya Hulk Girl alias She-Hulk, karakter fiktif raksasa hijau mutan ciptaan Marvel. Bukan itu saja. Rupanya celana dalamnya pun dirusaknya. 
 
Hmm, harus mikir lagi nih apa yang jadi ancaman atau bujukan untuk menyetop kebiasaan buruknya itu.
Meski telah dipergoki, dengan tenang dia meneruskan merusak pakaian yang dikenakannya, alih-alih tidur karena sudah menjelang subuh.
 
Ibu jadi bingung harus bagaimana. Males nyuruh Fay ganti baju. Soalnya hasrat merusaknya belum tuntas hanya malam itu. Dan benar, malam berikutnya, dia mengulangi perbuatan yang sama; baju dan celananya untuk tidur dirusaknya kembali.
 
Padahal konsekuensi (baca: hukuman) sudah diberikan, yaitu TV dimasukkan (artinya, dia tak bisa menonton K-Pop kesukaannya) dan tablet (tab) untuk dia browsing K-Pop juga dimasukkan ke kamar terkunci.
 
Yang kuharapkan bukanlah “melesat lari”, cukup “berjalan kaki pelan-pelan saja”. Bahkan “setapak demi setapak pun” tak apa, asalkan “berjalan ke arah depan” bukannya “berhenti”. Apalagi sampai “maju selangkah” kemudian “mundur dua langkah”.
 
Selalu “kembali ke titik nol”. Itulah gambaran perkembangan perilaku Fay. Hhh! Luar biasa melelahkannya.


Labels: , ,

Wednesday, November 04, 2015

Bagaimana Cara Melindungi Fay dari Diri Fay Sendiri?

Sejak kecil, Fay cenderung melukai dirinya sendiri, meski tak terlalu tampak. Misalnya, saat menggaruk lengan atasnya yang gatal, kulitnya sampai lecet-lecet yang menimbulkan bekas. Kulitnya jadi tidak mulus lagi, tampak seperti luka bekas sundutan rokok.

Itu sudah lamaa sekali tidak dia lakukan, hingga terulang lagi sekitar beberapa minggu lalu. Dia mulai menggaruk-garuk siku lengan kirinya hingga berdarah. Kemudian dikope setiap kami lengah (untuk mencegahnya).

Oleh Ayah, lukanya dibersihkan pakai alkohol, diolesi Betadine lalu ditutup Hansaplast. Sekarang lukanya  sudah sembuh, namun masih meninggalkan bekas menghitam.

Beberapa hari lalu, kami melihat Fay memencet-mencet lututnya di satu titik. Setelah diamati, rupanya dia berusaha membuat luka baru di lutut. Dia memencet-mencetnya, berharap ada darah keluar.

Di lain kesempatan, Fay makan mangga dengan garpu. Selagi kami lengah, garpunya dipakai untuk menusuk lukanya. Dia terus cari alasan untuk memakai garpu, biar dapat kesempatan untuk menusuki lukanya itu.

Nah, suatu siang, aku menunggui cucian di tangga, sedangkan Fay terlihat di bawah sedang nonton K-Pop kesukaannya.

Entah dari mana dan kapan dia dapatkan, tampak Fay sedang menusuk-nusuk lututnya dengan sebuah sekrup berkarat. Langsung aku turun dan mengamankan sekrup itu.

Lalu lukanya diguyur dengan alkohol. Anehnya dia tak tampak merasa keperihan, seperti reaksi orang yang lukanya diguyur alkohol. Padahal, di sekitar lukanya sudah menghitam dengan diameter sekitar 5 cm.

Reaksinya? Dia malah senang dan minta lukanya ditutup pakai plester luka (Hansaplast atau yang lainnya).

Oh, rupanya itu semua dia lakukan kemungkinan untuk mendapat sensasi "ritual menyembuhkan luka".

Aduuh Fay, Ibu capek deh. Bagaimana caranya Ibu melindungi Fay dari diri kamu sendiri? :(
 

Labels: , ,

Wednesday, September 23, 2015

Ketika Ayah Tak di Rumah

Sabtu kemarin (19 September 2015), Ayah pergi ke Jatinangor-Sumedang untuk bereuni bersama teman-teman kuliahnya. Kemudian Ayah mengunjungi Kakek dan Nenek di Majalaya.

Fay sudah diberitahu tentang rencana perjalanan Ayah, semalam sebelumnya, sekaligus dia diberitahu kalau Ayah  akan pulang Senin pagi (padahal rencananya pulang Minggu malam. Untuk "amannya", dibilang Senin pagi, agar tak menunggu-nunggu hingga tidak tidur malam).

Sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi, Fay sudah sulit ditangani. Pasalnya, sejak Jumat siang, selagi terapi, Fay merusak jilbab yang dikenakannya, dan juga celana dalamnya, sewaktu di kamar mandi.

Konsekuensinya, Sabtu  itu Fay tidak saya izinkan nonton TV (termasuk acara K-Pop kesukaannya). Caranya, pesawat TV kumasukkan ke ruangan terkunci.

Padahal pada Jumatnya, Fay sudah mendapat konsekuensi, akibat perbuatannya merusak barang. Pada Kamis malam, pada jam tidur malam, Fay malah begadang sambil merusak celana panjang yang dikenakannya.  

Bukan hanya itu. Sehari sebelumnya (Kamis), Fay mendapat konsekuensi tidak nonton TV selama setengah hari (sampai jam 3 sore), akibat membolongi celana panjangnya yang lain.

Jadi, tiga hari berturut-turut, Fay mendapat hukuman tidak nonton TV. Padahal, satu hari saja mendapat hukuman/konsekuensi, Fay berontaknya luar biasa. Dia memaksa agar TV dikeluarkan, dengan cara menggedor-gedor pintu ruangan tempat menyimpan TV. Dia juga menarik-narik tangan saya sambil histeris.

Kebayang, hari ketiga mendapat konsekuensi yang sama, di saat Ayah tak ada di rumah!

Begitu Ayah berangkat pada Sabtu pagi, Fay mulai berusaha kabur ke luar, dengan berdiam di teras depan, menunggu lengah. Padahal sinar matahari sedang terik-teriknya. Untunglah pintu gerbang depan sekarang sudah bisa digembok. Pagar pun sudah cukup tinggi; tak mudah untuk dipanjat Fay begitu saja.

Ibu berhasil membuat Fay kembali masuk rumah, setelah diiming-iming dengan kripik singkong kesukaannya.

Sehabis makan siang,  Ibu lupa mengunci pintu dapur (juga aksesnya ke halaman depan), membuat Fay mudah menerobos ke luar, dan kembali nongkrong di teras. Terpaksa Ibu turut berada di halaman, sambil berkeliling memeriksa tanaman.

Menjelang magrib, Fay secara sukarela mau masuk rumah dan mandi. (Kebetulan kami sedang "berhalangan", jadi tidak sholat).

Malamnya, seperti rutinitas, pukul 8 malam Fay masuk kamarnya setelah sikat gigi, BAB/BAK. Kelihatannya dia bakal langsung tidur, soalnya sejak siang dia tampak mengantuk.

Tapi... apa yang terjadi?

Lewat tengah malam, Fay memanggil-manggil, entah minta apa. (Oya, pintu kamar Fay, demi kebaikan dan keamanannya sendiri, sewaktu tidur dikunci dari luar). Ibu biarkan saja.

Kalau ada Ayah, biasanya Ayah lah yang merespon, kemudian menghampirinya. Permintaannya biasanya hanya ingin tahu sekarang jam berapa (memperlihatkan jam di HP). Atau minta air minum.

Tapi teriakan Fay tak berhenti. Dia terus memanggil-manggil, berkali-kali, secara berkala sepanjang dinihari itu, dan Ibu menulikan telinga.

Terakhir, Ibu lihat jam 02.50 dinihari, dan Fay masih memanggil-manggil. Sejak itu, terdengar dia turun dari ranjang dan berlari-lari di kamar, juga menggedor-gedor pintu.

Ibu berdoa agar tetangga di kanan-kiri, juga di belakang rumah, tidak terganggu oleh keributan yang dibuat Fay. Tapi gedoran semakin keras, dan Ibu mulai khawatir pintu akan jebol.

Begitu azan subuh berkumandang, Ibu buka pintu kamarnya. Tadinya dikira Fay akan langsung mengambil air minum yang selalu tersedia di depan pintu kamarnya. Atau menerobos ke kamar mandi karena ingin BAK. Ternyata tidak!

Dia malah ambil sapu dan mulai menyapu lantai kamar dan ruangan lantai atas, setelah itu mandi.

Setelah mandi, dia  meminta alat pel sekalian dengan airnya di ember. (Oya, Fay sudah lama aku ajari menyapu dan mengepel). Rupanya, dia ingin menyapu/mengepel lebih pagi, agar pada Minggu pagi itu, Fay bisa menonton acara kesukaannya di TV; video klip lagu-lagu Korea (K-Pop).

Tinggal aku yang terkantuk-kantuk dan sakit  kepala. :( 

*Foto: aksi "goyang kipas" Fay saat nonton K-Pop kesukaannya.



Labels: , ,

Sunday, November 23, 2014

Harus Hitam di Atas Putih

Kejengkelan Ibu karena Fay yang hobi merusak barang-barang, mulai bisa dikomunikasikan. Titik terang itu muncul setelah kami mendiskusikannya dengan tim terapis Fay.

Kami disarankan untuk melakukan "komunikasi transaksional" dengan Fay secara tertulis atau divisualisasikan, seperti contoh berikut ini:



 Alhamdulillah, Fay menuruti kesepakatan yang kami buat, dan cuma sekali Fay melanggarnya. Tapi Fay langsung merasakan akibatnya; hukuman!

Hukuman yang efektif bagi Fay adalah ditariknya kesenangan yang dia sangat minati saat ini, yaitu bermain laptop dan pergi ke Menara Kuningan.

Sekarang tampak hasilnya; Fay mulai menuruti daftar atau check list itu, karena -seperti dibilang oleh terapisnyap Fay lebih memahami komunikasi lewat visual. Semuanya harus tertulis "hitam di atas putih". :D 

Labels: , , ,

Thursday, November 06, 2014

Fay Merusak Barang-barang, Sakitnya Tuh di Sini!

Sebenarnya sudah lama Fay punya "hobi" merusak barang-barang, dan ini membuat kedua ortunya frustrasi. Kebiasaan buruknya itu timbul tenggelam. Setelah lamaaa sekali tak kelihatan, daya rusaknya mulai lagi dipertunjukkan.

Dan kali ini daya rusaknya sangat dahsyat, padahal segala benda tajam atau yang bisa dipakai merusak, seperti pisau, gunting, pacul, arit, gergaji, gunting rumput, anak kunci, bahkan pulpen, sudah kami amankan.

Pada malam hari, saat Fay waktunya tidur, kala lampu kamar sudah dimatikan, tak terdengar suara, senyaplah seolah-olah sang penghuni kamar sudah terlelap dibuai mimpi.

Padahal .... di tengah malam hingga dinihari, tiba-tiba Fay ribut berteriak-teriak, atau menggedor-gedor pintu, meminta minum. Minum (sedikit air bening) sebenarnya hanyalah alasan, untuk meminta "ritual" diselimuti ayahnya di diberi ucapan selamat tidur oleh ayahnya, sebelum dia tidur beneran.

Tapi, ketika pintu kamar dibuka dan lampu dinyalakan, ya ampuuuun! Di lantai kamar berlebaran benang-benang yang tadinya berbentuk baju, celana, celana dalam, BH ... Dan itu dilakukannya setiap malam! Berganti-ganti malam ini bajunya yang jadi benang, besoknya celananya, selanjutnya BH-nya, (itu semua, benda-benda yang sedang dan masih dia pakai loh ....).

Ya jelas, habis lah lama-lama pakaian dia kalo setiap hari ada yang dirusak.

Rabu, 5 November 2014 adalah jadwal terapi Fay di YIPABK, Menara Kuningan, pada jam 10.00 sampai 13.00. Berarti berangkat dari Sasakpanjang jam 8.00 (dua jam sebelumnya) dan sampai rumah sekitar jam 15.00 (atau dua jam setelah terapi selesai). Karena Fay terapi diantar Ayahnya dengan dibonceng sepeda motor, berarti Ibu punya waktu untuk ke Depok membeli barang-barang keperluan Fay, yang sudah dirusak Fay.

Jadi berangkatlah Ibu ke ITC Depok di sebelah Terminal Depok. Pagi-pagi, saat gerai baru buka, Ibu membeli tiga celana panjang buat Fay. Setelah itu ke Carrefour membeli keperluan RT yang tidak dijual di warung Bu Alip -warung langganan di belakang rumah. Setelah itu, ke D-Mall untuk membeli BH Fay, yang juga sudah habis dirusaknya. Dari D Mall, Ibu mampir dulu ke Ramayana (di seberang ITC Depok). Tadinya mau cari training buat Fay, tapi tak dapat, malah dapat celana panjang lagi. Dari Ramayana naik angkot 05 langsung ke Citayam.

Tiba di rumah hampir setengah 2. Begitu masuk rumah, buka pintu dan merogoh saku celana panjang.... lah kok ada kartu penitipan barang di Carrefour? Waduh! Hiks cape deh Ibu kalau harus balik lagi, di tengah hari yang panas menyengat itu. Tapi mau nggak mau, kalau barang belanjaan ingin terselamatkan, Ibu harus balik lagi ke Carrefour.

Setelah shalat dzuhur, baru deh berangkat. Kali ini membawa si Beaty hingga belakang Stasiun Citayam. Eh, di jalan ketemu motor yang membawa Fay dan ayahnya, yang baru pulang terapi. Fay dan Ayahnya pulang, aku terus meneruskan perjalanan.

Singkat cerita, setelah mengambil barang yang dititipkan, aku langsung pulang lagi. Pas ashar, aku tiba di rumah. Cape banget sih. Tapi lebih cape lagi hati ini, waktu suami nunjukkin sepatu cantik Fay, kulit warna merah yang kubelikan belum lama ini sudah dirusaknya. Capenya tuh di sini Fay! (sambil nunjuk jantung).

Keterangan: foto sepatu cantik Fay yang baru saja dibelikan, kemudian dirusaknya. Kini sudah diperbaiki kembali oleh Ayahnya dengan cara dijahit.

Labels: , ,

Saturday, April 26, 2014

Ayah ke Makassar, Fay Malah ke UGD

Fay seringkali melakukan gerakan-gerakan ritmis yang dilakukannya secara berulang-ulang, seperti menggoyang-goyangkan badannya ke kiri ke kanan atau ke depan dan belakang. Dilakukan kadang sambil berdiri atau duduk. Awalnya pelan-pelan, semakin lama semakin kencang dan tak terkendali. Gerakan-gerakan ini dilakukannya seperti dia mengalami excitment. Entah karena apa.

Setiap Fay bergoyang-goyang begitu, kami selalu melarangnya. Bahkan sering memegangi badannya, agar tidak membahayakan dirinya sendiri. Tapi biarpun badannya sudah dipegangi, gerakan Fay sukar dihentikan. Kadang melambat atau berhenti sejenak dan diteruskan kembali, tapi tidak terlalu kencang.

Pada Selasa malam, 22 April 2014, aku dan Fay berdua saja di rumah, karena sejak Senin ayahnya bertugas ke Makassar. Waktu itu kami selesai makan malam. Fay yang sedang duduk di step tangga paling bawah, mulai mengayunkan badannya ke depan dan belakang. Padahal di depannya ada meja kecil (meja sekolah TK yang kami beli dulu untuk terapi Fay di rumah).

Aku berkali-kali memperingatkannya untuk berhenti, tapi tidak digubrisnya. Ketika ayunannya semakin kencang, aku berdiri untuk menghentikannya. Tapi.... terlambat! Mukanya dengan keras menghantam meja! Aku terhenyak, Fay mulai menangis. Aku mendekatinya, ternyata darah langsung mengucur dari hidungnya deras sekali membasahi baju dan celana yang dipakainya, dan juga lantai.

Aku segera ambil kapas dan meminta Fay memegangi hidungnya dengan kapas agar darah tidak terus megucur. Aku langsung telepon Bu Hartoyo, tetangga yang masih satu jalan, agar datang. Aku berniat meminta tolong suaminya, agar mengantarkan Fay ke dokter terdekat. Sayangnya, Pak Hartoyo belum pulang kantor. Karena itu, aku minta Bu Hartoyo memanggilkan Bu Unyi yang tinggal di sebelahnya. Biasanya dia bisa di-hire untuk mengantarkan kami dengan motornya. Sayangnya, Bu Unyi rupanya sedang main ke rumah ortunya di malam yang hujan itu.

Untungnya Bu Hartoyo berinisiatif untuk menghubungi Bu Ngadimin, mantan Bu RT. Tapi sayangnya Pak Ngadimin juga tidak bisa, karena tak sanggup mengendarai motor di malam hari. Untunglah ada Pak Pono, tetangga di dekatnya, yang biasanya jarang di rumah. Saat itu dia berada di rumah, karena mau berangkat ke Gorontalo dini harinya.

Akhirnya Pak Pono dan Bu Pono bersedia mengantarkan kami, termasuk Bu Ngadimin, dengan mobilnya, untuk mencari dokter/klinik yang masih buka. Kami menemukan puskesmas yang masih buka, di depan rumah Jaja "Apaan Tuh?" Miharja. Tapi ternyata, di malam hari puskesmas itu dijaga bidan (bukan dokter), yang piket hanya untuk layanan kehamilan dan persalinan. Kami pun diarahkan ke klinik RS Griya Medika di Kalisuren.

Alhamdulillah, tulang hidungnya tidak patah, hanya memar saja, kata bu dokter di UGD. Fay diberi antibiotik, obat penghenti pendarahan, obat anti-nyeri dan anti radang. Besoknya dia keukeuh sekolah. Sepulang dari mengantarkan Fay ke sekolah, di rumah ibunya mewek. :P

Labels: , , , ,

Thursday, April 03, 2014

Gigi Fay Bagus! (Kata Dokter Gigi)

Rabu pagi, 2 April 2014, Fay mengeluhkan giginya yang  sakit. Sejak sebelum berangkat sekolah, Fay minta diantar ke dokter gigi. "Ke dokter gigi!" katanya, berulang-ulang. Ketika kutanya "gigi mana yang sakit?", Fay menunjuk ke gigi bagian kanan bawah (paling ujung).

Kulihat tak ada tanda-tanda mencurigakan. Tapi setelah sore, pulang sekolah, Fay kembali merengek-rengek minta ke dokter gigi, akhirnya kami luluskan juga permintaannya. Takutnya beneran sakit gigi.

Ba'da magrib, kami bertiga naik motor ke Klinik Citama, di Citayam, tempat dokter gigi langganan kami itu berpraktek. Untunglah, pasien sedang sepi. Hanya menunggu satu pasien. Itu pun tidak lama.

Dokter kemudian melongokkan kepalanya ke luar, seraya memanggil: "Fairuz!" Fay, dengan diantar Ayah, masuk ke ruang praktek. Aku menunggu di luar.

Begitu masuk,  Ayah mengenalkan Fay ke dokter gigi. "Malam Dok, Ini anak saya mau periksa gigi," kata Ayah, membuka pembicaraan.

"Gigi mana Fairuz, yang sakit?" tanya dokter.

Ayah  menerangkan bahwa Fay penyandang autis, yang kata-katanya terbatas. Dia belum bisa menerangkan sendiri, apa yang dirasakannya. Ayah pun membantunya menunjukkan di mana gigi yang sakit.

Setelah duduk di "tahta", Fay disuruh membuka mulut. Dengan bantuan Ayah, dokter pun menemukan lokasi sakit yang dikeluhkan Fay.

"Nggak apa-apa," sahut dokter. "Itu cuma gigi baru tumbuh," sambungnya.

Rupanya, gigi dewasanya baru mau tumbuh. Dan itu biasanya memicu sedikit rasa sakit.

Dokter pun meyakinkan Fay bahwa giginya bagus dan tidak ada masalah.

"Giginya bagus! Bagus!" kata dokter pada Fay, seraya menunjukkan jempolnya, yang kemudian dibalas Fay dengan ucapan serupa: "Bagus!" sambil (juga) menunjukkan jempolnya kepada dokter.

Seperti dugaan Ibu!  
Ya iya lah, bagus. Kan Ibu yang setiap hari  memastikan Fay sikat gigi dengan benar. :D 

Fay kelihatannya puas, kendati tidak diapa-apakan oleh dokter. Diberi resep obat pun tidak. Di buku status, malah dituliskan kata "Batal". Artinya, Fay tidak dikenakan tarif konsultasi sama sekali. Baik sekali dokter itu. :) 

Oya, mungkin karena dokter sudah mengenal Ayahnya Fay.  Maklum saja, dua minggu lalu Ayah ditambal di dokter yang sama. Semuanya ada tiga tambalan.

Saat itu, sepulang Ayah dari dokter gigi, Fay "memeriksa pekerjaan dokter gigi itu", dengan menyuruh Ayah menganga, dan Fay menyenteri gigi yang ditambal satu per satu dengan senter dari HP ibu. :P

Seminggu kemudian, Mamangnya Fay juga memeriksakan gigi di klinik yang sama -dengan keluhan gigi dewasa sakit dan perlu dicabut- walaupun akhirnya konsul ke dokter umum, karena ada masalah dengan tekanan darahnya.    

Tapi Fay taunya Mamang pergi ke dokter gigi.

Mungkin,  melihat Ayah dan Mamang ke dokter gigi, Fay pun ingin ke dokter gigi. Biarpun cuma disuruh buka mulut, diperiksa, dan dinyatakan giginya bagus, bagi Fay, itu sudah cukup.

Mungkin pula, duduk di kursi dokter gigi yang dipenuhi peralatan -yang bagi anak-anak cukup "mengerikan"- bagi Fay, itu suatu pengalaman yang menyenangkan. :D 

Labels: , ,

Friday, December 20, 2013

Fay UAS Tanpa Remedial

Fay mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) di sekolahnya, dari tanggal 16 sampai 18 Desember ini. Setelah selesai UAS, sekolah member kesempatan bari siswa yang nilai UAS-nya jelek untuk mengikuti remedial.

Pada Kamis (19/12), Fay seperti biasa diantar ayahnya ke sekolah. Dari status FB ayahnya, aku baru tahu kalau Fay ternyata tidak perlu mengikuti remedial, karena nilai UAS untuk tiap pelajaran rata-rata 7. Wow keren, alhamdulillah.

Sorenya sepulang sekolah, aku dan ayahnya Fay ngobrol-ngobrol soal Fay yang tak perlu remedial. Rasanya, percaya nggak percaya gitu. Apalagi ada teman Fay yang secara terus terang menyatakan keheranannya karena Fay tak perlu mengikuti remedial seperti dirinya.

Pikiranku saat itu sih sederhana saja. Paling-paling Fay menjawab soal-soal UAS dibantu shadow teacher-nya....

Nah, pada Jumat (20/12) ini, aku yang menjemput Fay dari sekolahnya. Di depan sekolah, aku bertemu seorang ibu dari temannya Fay, yang juga menjemput anaknya. Kami pun mengobrol.

Obrolan sampai juga soal Fay yang tak perlu remedial, sedangkan anaknya harus ikut untuk remedial beberapa mata pelajaran. Kecurigaanku (bahwa Fay dibantu shadow-nya) kusampaikan, dan kami pun sepakat (menyangka) begitu. Jangan-jangan Bu Nur (shadow Fay) turut membantu memberitahu jawaban-jawaban soal UAS Fay. Kami membahasnya sambil ketawa-ketawa.

Secara kebetulan (sebenarnya, tak biasanya), Bu Nur datang menghampiri kami. Daripada penasaran soal UAS Fay, aku pun langsung bertanya pada Bu Nur soal kemungkinan jawaban Fay dibantu.

Di luar dugaan kami, Bu Nur mengatakan kalau ia sama sekali tidak membantu Fay menjawab soal-soal. Fay sendiri lah yang mengerjakan semua itu. Menurut dia, sebelum UAS dilakukan, Fay terus dilatihnya untuk membaca kisi-kisi soal UAS; berkali-kali, dan dilatih dalam menjawab oleh Bu Nur.

Leganya aku mendengar jawaban Bu Nur. Soalnya di rumah Fay sama sekali tak dilatih "menghapal" atau membahas kisi-kisi soal UAS.

Maafkan Ibu ya Fay, karena sudah ander istimit pada kemampuanmu. Maafkan saya juga Bu Nur, karena sempat menyangka Fay diberitahu menjawab soal-soal, saat UAS berlangsung --yang memang seharusnya dilarang. :)  

Labels: , , , ,

Sunday, November 03, 2013

Sebotol Penuh Sampo Dibuangnya

Biasanya Fay, kalau malam hari setelah sholat isya langsung kusuruh masuk kamar untuk tidur. Sudah menjadi kebiasaannya pula, setelah beberapa jam di kamar, dia bangun kembali dan minta dibukakan pintu. Ada-ada saja alasannya. Mulai minta minum sampai BAK dan BAB.

Kalau sudah urusan kamar mandi, kami harus waspada, apalagi kami sekarang sedang menempati rumah kontrakan. Kebetulan kamar mandi di rumah kontrakan ini, lantai keramiknya sudah ada beberapa yang pecah. Dan kebiasaan buruk Fay, kalau ada sesuatu yang rusak, bukannya diperbaiki malah diperparah. Beberapa kali dia tertangkap basah mencongkeli keramik pecah itu dan memasukkannya ke dalam kloset, lalu membilasnya. Makanya, aku biasanya ikut masuk ke dalam kamar mandi, selagi Fay ada urusan di sana, untuk mencegah tindakan-tindakan aneh.

Suatu malam, aku ngantuk luar biasa, dan ketika Fay minta ke kamar mandi pun aku tetap tergolek di kasur. Hanya ayahnya yang membukakan pintu. Tetapi karena ayahnya itu lelaki dan Fay sudah gadis remaja, tentu saja ayahnya tidak bisa masuk ke kamar mandi dan mengawasi Fay secara ketat.

Dia lamaaaaaaa sekali di kamar mandi. Paginya, aku langsung memeriksa ke kamar mandi, takut ada yang dirusak oleh Fay. Maklum, ini kan rumah orang. Ternyata, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Wah, ada kemajuan nih. Hmmm, tapi tetap aja ada sesuatu yang menggayut dalam benak.

Benar saja. Besoknya, aku menyuruh Fay keramas. Dan..... ternyata sampo yang masih penuh itu ternyata sudah habis, bis bis... Dan ketika Fay melihatku mendapati sampo yang tak tersisa setetspun itu, tertawa gelak-gelak. Begitu lah dia. Tertawa puas setelah "berhasil" membuat ibunya jengkel. Huh!

Labels: , ,

Wednesday, August 28, 2013

Fay dan Obat

Dulu ibu punya cita-cita punya lemari obat kecil yang bagus, kalau nanti rumah ini sudah direnovasi menjadi lebih layak huni. Lemari obat ini bisa memudahkan untuk menyimpan obat dan juga memudahkan kita kalau sewaktu-waktu memerlukannya. Tapi kayaknya ibu gak bakal bisa mewujudkannya sesuai dengan yang ada dalam gambaran di kepala ibu deh. :(

Masalahnya Fay ini memang luar biasa istimewanya. Beda banget dengan anak yang lain. Coba, mana ada anak yang senang minum obat? Bahkan orangtua pun sebenarnya males kan kalau terpaksa minum obat. Orang kan minum obat kalau memang sedang sakit. Lha, Fay minum obat itu seperti sebuah keharusan, seperti orang makan gitu. Bukannya dipaksa minum obat kalau sakit, malah maksa minta obat walaupun gak kenapa-kenapa. Gawat kan... Lebih gampang nyuruh Fay minum obat daripada nyuruh tidur. Haduuuuuh... Kayaknya terobsesi gitu..

Mungkin Fay jadi "sakaw" obat ini setelah dia tak lagi mengonsumsi obat dari dokter psikiatri anak langganannya, sejak beberapa tahun lalu. Biasanya, psikiater memberinya obat untuk membuatnya tidak hiperaktif dan mudah diatur. Setelah makin lama rasanya makin berat bagi keuangan kami, dan juga kasihan pada Fay, karena keseringan minum obat bisa membahayakan ginjalnya, kami hentikan begitu saja minum obatnya. 

Akibatnya menyimpan obat harus berhati-hati, jangan tergeletak sembarangan. Bahkan menyimpannya pun harus berpindah-pindah kalau sudah ketahuan sama dia. Seringkali kalau kami meleng, obat suka hilang dan tinggal bekasnya saja. Dan dia selalu berhasil menemukannya. Itu kan bahaya Fay, minum obat itu bukan seperti makan permen atau cemilan. itu adalah racun yang harus hati-hati dipakainya kalau perlu saja. Harus sesuai aturan pakainya.

Jadi kami harus selalu menyembunyikannya dan harus segera memindahkannya ke tempat lain sebelum akhirnya dia menemukannya lagi. :(

Sekarang ini, persembunyian obat kami adalah tas plastik bersleting yang di simpan di gantungan baju di kamar mandi kami (ditutupi handuk). :P

Jadi cita-cita ibu punya lemari obat yang cantik harus ditambah: lemari obat berkunci! Walaupun jadinya tak masuk dalam konsep gampang mengambilnya kalau ada emergensi. :(

Labels: , ,

Monday, August 26, 2013

Ngupas Bawang Putih Pakai Pisau Roti

Sudah beberapa hari ini Fay gelisah banget. Bangun tidur, mandi, kemudian berusaha keluar dan beredar entah ke mana. Maunya dia, ayahnya mengajaknya berjalan-jalan keliling kampung. Tapi, sepagi itu? Anak kunci pintu depan pun sampai harus disembunyikan, karena ayah dan ibu kan masih banyak urusan dengan pekerjaan rumah, nggak bisa langsung jalan-jalan begitu saja. Ketika ibu harus belanja sayuran, Fay harus ditahan ayahnya agar tak ikut keluar dan kabur, atau minimal, duduk-duduk di teras (siap-siap kabur).

Sepulang belanja, ibu ke dapur. Fay mengikuti. Tadinya ibu mau mengeluarkan pisau untuk mulai menyiangi sayuran, tapi nggak jadi, karena Fay bertahan menyaksikan kegiatan ibu. Jadi ibu memutuskan mengupas bawang putih dulu.


Karena Fay tidak pergi juga, ibu ambil pisau roti untuk mengupas bawang putih itu, dengan harapan, Fay bosan karena ibu tidak juga mengeluarkan pisau dapur. (Fay dihindarkan dari pisau dapur, karena sering menyalahgunakannya. Bukan untuk menyakiti dirinya, melainkan untuk merusak baju yang dipakainya atau memotong rambutnya). Eh... ternyata Fay bertahan dengan tabah di situ. :P

Baiklah, kalo begitu... Fay ingin membantu ibu rupanya....



Silakan Fay yang mengupas bawang putih ini, sementara ibu mencuci beras dan memasaknya. Dan Fay dengan tekun mengupas bawang putih menggunakan pisau roti, yang tidak tajam, melainkan bergerigi. Cuma, "daging" bawang yang terbuang kok banyak banget ya? :P

Labels: , , , ,

Tuesday, August 20, 2013

Fay Bayar Puasa

Mengajari Fay berpuasa bukan perkara mudah. Butuh waktu yang lebih panjang dibanding anak-anak lainnya, agar dia mengerti betul "aturan main" berpuasa itu. 

Alhamdulillah, tahun ini fay berhasil menyelesaikan puasa Ramadan dengan baik, tanpa ada insiden mencomot makanan yang berada di dekatnya. Fay tahun ini tahu dia tidak boleh makan dan minum sejak imsak sampai magrib tiba. Dia tidak berpuasa hanya ketika sedang mens saja.

Hanya sekali, di suatu sore Fay lupa memasukkan permen ke dalam mulutnya, tapi dia langsung memuntahkannya ketika diingatkan kalau dia sedang berpuasa.

Tapi jangan tanya apakah Fay mengerti betul mengapa dia harus berlapar-lapar puasa Ramadhan selama sebulan penuh ya. Wallahualam. Jadi walaupun tahun ini kami anggap Fay "lulus" puasanya, tapi kami tak berharap Fay mau membayar hutang puasanya, apalagi berpuasa sunah. :D

Sehari sebelum masuk sekolah lagi setelah libur panjang, kepala sekolah Fay meng-SMS mengingatkan untuk sekolah besok dan acara yang akan diadakan di hari pertama sekolah itu. Hari pertama sekolah adalah Lebaran ala BizSmart, anak-anak membawa penganan lebaran untuk dinikmati bersama. Hari Selasa sampai Jumat anak-anak diminta untuk melakukan puasa syawal.

Wah, kebetulan nih, momen ini bisa dimanfaatkan untuk meminta fay bayar puasanya berbarengan dengan teman-temannya yang puasa sunah syawal. Kalau gak barengan dengan teman-teman, mana mau dia puasa? :D

Labels: , , ,

Monday, June 03, 2013

Aku Perlu Segera Punya SIM C Nih!

Senin adalah hari giliranku menjemput Fay dari sekolahnya. Seperti biasa aku naik motor sampai Stasiun Citayam. Kutitipkan motorku di penitipan motor belakang stasiun kereta, kemudian aku sambung dengan angkot sampai ke Simpangan Depok.

Seperti biasanya pula, Fay memegang iPod yang diperoleh dari ayahnya. Iya, ipod milik  ayahnya itu sengaja kami peruntukkan buat Fay. Tadinya aku pikir itu akan baik buat Fay, karena selain ada game angry bird, juga ada kameranya. Fay senang menggunakan kameranya untuk memotret. Kupikir siapa tahu Fay berbakat dalam fotografi, iPod ini bisa menjadi alat pertama Fay dalam karir fotografinya. :D Lagipula, biar dia anteng selama dalam perjalanan naik angkot.

Tapi ternyata, objek foto Fay di luar dugaan kami. Dia cuma tertarik memotret kemasan rokok, dan segala macam yang berhubungan dengan rokok, seperti pemantik api. Repotnya, dia selalu memaksakan kehendaknya, termasuk untuk mampir ke warung atau toko, hanya untuk memotret rokok yang terpajang di etalase. Cara dia memaksa "sungguh kreatif". Kadang dia pura-pura minta dibelikan minuman atau tisu. Padahal, tujuannya hanya untuk memotret rokok. Ini cukup memusingkan kami, karena dia itu suka main nyelonong aja.

Senin pekan lalu, 27 Mei. Ketika tiba di Stasiun Citayam, kami langsung ke penitipan motor di belakang stasiun dengan berjalan kaki. Tiba-tiba Fay lari tanpa bisa ditahan, masuk ke dalam toko yang ada penjaganya. Penjaga toko yang sedang minum kopi panas itu ditabrak Fay, yang hanya fokus pada rokok. Dan ... byur! Kopi pun tumpah ke mana-mana, membasahi beberapa gulungan sampul buku yang dijual di situ.

Dengan menahan malu aku minta maaf dan membayar kerugian yang ditimbulkan Fay. Reaksi Fay? Seperti biasa, dia cuek aja. Ia asik memotreti rokok di pajangan yang ada di dalam.

Dengan pengalaman seperti itu, kami memutuskan untuk tidak mengizinkan lagi Fay membawa iPod ketika dalam perjalanan.

Nah, Senin hari ini (3 Juni), kami melakukan perjalanan sama seperti pekan lalu. Kendati Fay tak sedang memegang iPod, aku memagang tangannya erat-erat, agar tidak nyelonong ke warung atau toko.

Benar saja, ketika melewati toko, Fay mencoba memaksa masuk ke toko itu. Tapi karena aku sudah bersiaga, Fay tak bisa menginjakkan kakinya di toko itu. Terjadilah tarik-tarikan di sana, sampai menarik perhatian banyak tukang ojek di sana. Tapi aku tak peduli. Fay harus tau bahwa dia tak boleh melanggar hak milik orang lain dan mengganggu kenyamanan orang lain.

Tampaknya, aku harus segera mengurus SIM C (SIM untuk sepeda motor), agar aku bisa menjemput Fay langsung ke sekolah, tanpa harus menitipkan motor dan melanjutkan perjalanan dengan angkot dan berjalan kaki, yang memberi peluang bagi Fay untuk memaksa mampir ke tempat rokok berada.

Labels: , , ,

Monday, April 29, 2013

Fay Kabuuur!

Bermain-main di lapangan sekolah [Foto: Dinda Annisa]Bermain-main di lapangan sekolah [Foto: Dinda Annisa]i
Kejadian Fay kabur, dari Cibinong  ke Penggilingan, mau kutuliskan di blog ini. Ternyata, tulisan ayahnya Fay sudah lebih lengkap. Jadi, mending copas aja. Sama saja toh? :D



Bagaimana bisa? 

Fay, 15 tahun, anak kami yang menyandang autistik, Ahad kemarin (28/4), tanpa membawa uang sepeser pun menempuh perjalanan dari Cibinong ke Penggilingan sendirian, dalam waktu 3 jam. Jarak antara kedua tempat itu lebih dari 50 kilometer. Dengan sepeda motor saja waktu tempuhnya 2,5 jam. Bagaimana bisa?
ITULAH pertanyaan yang hingga sekarang menggelayut di pikiran kami. Sepanjang sore, kami berkumpul di Penggilingan, rumah Apih (kakek)-nya Fay, untuk membicarakan “petualangan” Fay, pada Ahad siang itu. Ada Mamang (paman)-nya Fay, ada Bu Diana (guru pendamping Fay waktu SD), ada Bu Ida (kakak dari Bu Diana), dan dua bapak; Pak RT di tempat Bu Diana tinggal, dan seorang lagi tetangganya, serta kami Ayah dan Ibunya Fay, juga Fay sendiri.
Kami, para orang dewasa menceritakan bagaimana pengalaman dan kekhawatiran kami seharian itu, untuk mencari Fay yang lari dari rumah, saat berada atau dititipkan di rumah Bu Diana, yang sering kami titipi Fay. Selama ini, Fay sering dititip di rumah Bu Diana, biasanya dari Sabtu siang hingga Minggu sore, atau menginap semalam. Selama ini, ya baik-baik saja.
Karena kami tahu, dari sekian banyak guru pendamping yang pernah mendampingi Fay, Bu Diana lah yang paling sayang Fay. Kendati sekarang sudah tak lagi menjadi guru pendampingnya, karena ia sudah direkrut oleh sekolah sebagai guru anak berkebutuhan khusus, Bu Diana bersedia menjaga Fay, selama kami ada keperluan yang Fay tak memungkinkan untuk dibawa serta. Misalnya, sejak Apih sakit hingga meninggal dan pemakaman, Fay dititipkan di Bu Diana. Karena kami bisa membayangkan seandainya Fay tidak dititipkan, saat kami sibuk mengurus segala sesuatunya, Fay tidak ada yang memerhatikan.
Bagaimana kejadiannya?
Menurut penuturan Bu Diana dan Bu Ida, Fay di Minggu pagi, di rumah melakukan senam bersama. Fay mengenakan baju kaos lengan panjang warna cokelat dan celana panjang olah raga warna biru gelap. Nah, sehabis senam, mereka bermaksud sarapan. Fay ditawari, mau sarapan apa? Ternyata ia mau sarapan gado-gado.
Maka, Bu Diana pun pergi untuk membeli gado-gado, dan Fay dititipkan kepada Bu Ida. Di sana juga ada keponakan Bu Diana yang berusia 5 tahun. Menurut Bu Ida, saat itu ia mendadak ingin “ke belakang”. Setelah keluar dari kamar mandi itulah, Fay sudah tidak berada di tempat, entah ke mana. Waktu saat itu sekitar jam 9 pagi.
Singkat cerita, seisi rumah pun heboh. Apalagi tak seorang tetangga pun yang mengaku melihat Fay melintas. Padahal, selama ini, para tetangga Bu Diana bisa diibaratkan sebagai “pagar sosial”, karena semua mengenal Fay, dan menjaga Fay.
Pencarian pun dilakukan, dengan berjalan kaki menyusuri gang, dan dengan sepeda motor hingga ke pangkalan ojek dan Terminal Cibinong. Bahkan kata Pak RT, pencarian dilakukan di 5 kampung sekitar. Hasilnya nihil.
Hingga ada sedikit petunjuk, ketika ada seorang tetangga yang bilang, kalau Fay berlari ke arah proyek (perumahan) sekitar pukul 11.00. Saat itu waktu hampir menunjukkan jam 12. Tapi ketika ditelusuri rute yang kira-kira ditempuh Fay, hasilnya tetap nihil.
Kepanikan pun makin menjadi. Bahkan Bu Ida, katanya, sampai pingsan 3 kali, karena merasa bertanggung jawab atas hilangnya Fay. Demikian pula Bu Diana, yang memutuskan akan melapor kehilangan Fay ke kantor polisi (tapi kemudian tidak jadi melapor).
Kabar hilangnya Fay sampai ke telinga kami
Sekitar pukul 12 siang ada misscall dari Bu Diana ke HP Ibunya Fay, yang Ahad itu sedang berada di rumah, di Sasakpanjang. Tapi begitu ditelepon balik, HP diangkat, namun tak ada jawaban. Lalu aku menelepon Bu Diana memakai HP-ku, diangkat Bu Diana, yang kedengarannya sedang menangis. Aku pun jadi nggak enak hati, ada apa ini?
Sambungan terputus, lalu aku coba telepon lagi Bu Diana. Dijawab. Ia hanya berkata singkat, “Pak, mohon datang ke Cibinong.” Tak ada penjelasan lebih lanjut. Telepon pun ditutup. Lalu aku melapor ke Ibunya Fay.
“Yah, pergi aja sendiri ke Cibinong, takut ada apa-apa,” pesan istriku.
Tapi aku masih penasaran, ada apa ini? Aku kembali menelepon Bu Diana, yang dijawab dengan nada lemas. Aku terus mendesak, ada apa dengan Fay? Lalu keluarlah jawaban, bahwa Fay hilang dari rumah.
“Deggg! Serasa jantung hampir copot dan serasa langit hampir runtuh! Astaghfirulloh!”
Betapa tidak, Fay sekarang sudah gadis remaja. Penampilan fisiknya tak ubahnya seorang wanita dewasa, namun dengan jalan pikiran anak-anak. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan pun belum tentu jelas atau dimengerti si penanya. Kemampuan verbal Fay memang masih minim, masih sebatas mengungkapkan keinginannya sendiri.
Bagaimana kalau kenapa-napa di jalan?
Bagaimana kalau ada orang yang menculiknya?
Naudzubillahi mindzalik!
Tapi aku tetap berusaha menenangkan diri. Adzan dzuhur pun berkumandang. Kami memutuskan untuk menjalankan shalat dzuhur sekalian dijama’ (digabung) dengan ashar. Karena kami kira ini akan menjadi “hari yang panjang.”
Selepas dzuhur, HP-ku berdering. Ternyata dari Mamangnya Fay di Penggilingan. Dia menanyakan posisi kami di mana. Setelah dijawab kami berada di Sasakpanjang, dia pun kaget.
Katanya, “Fay ada di Penggilingan. Dia datang sendirian ke sini!”
Ya Allah, alhamdulillah. Wasyukurillah. Itulah yang terpikir pertama kali olehku, kendati sejumlah pertanyaan menggelayut di pikiranku; bagaimana dia bisa sampai ke sana?
Tapi pertanyaan itu sementara kami tepis. Yang penting, kami segera ke Penggilingan untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku segera menelepon Bu Diana, mengabarkan kalau Fay sudah ditemukan; di Penggilingan! Motor Tornie pun kukeluarkan, dan kami berboncengan ke Penggilingan. Waktu tempuh ke sana sekitar 2,5 jam.
Tidak percaya
Dalam perjalanan ke Penggilingan, kami membahas, bagaimana kemungkinan Fay bisa mencapai Penggilingan. Ada beberapa kemungkinan, yang semuanya bermuara di pertanyaan “bagaimana bisa?”.
1. Opsi paling mungkin (meski ujung-ujungnya timbul pertanyaan seperti di atas), adalah dengan berjalan dan berlari. Fay mudah sekali menghapal rute. Selama dibonceng di sepeda motor, Fay selalu melihat-lihat rute yang dilaluinya. Sewaktu kecil, dia selalu mengoreksiku, kalau perjalanan kami tak sesuai rute yang biasa. “ke kiri!” atau “ke kanan!”, atau “ke situ!” serunya.
Dengan rute Cibinong-Penggilingan yang sudah dia hapal, dia berlari menyusuri jalan raya, hingga tiba di Penggilingan. Tapi timbul pertanyaan:
- Bagaimana bisa menempuh jarak Cibinong-Penggilingan dengan berlari hanya dalam waktu 3 jam?
- Apa dia tidak cape di jalan untuk berhenti atau minum. Padahal, dia tak membawa bekal minuman atau pun uang untuk membeli minuman. Bahkan cara berbelanja/bertransaksi aja dia belum tahu?
- Bagaimana bisa dia melewati banyak perempatan besar (seperti Pasar Cibinong, Pasar Rebo, PGC, Cawang, dan lain-lain), padahal dia tak bisa menyeberang jalan sendirian?
- Menurut Mamangnya, ketika tiba di Penggilingan dengan berlari (kata saksi mata, tukang kios depan rumah), dia sama sekali tak kelihatan berkeringat banyak hingga membasahi bajunya. Keringat dia sedikit saja, di hari yang terik itu. Padahal, rute yang dia baru tempuh, lebih dari rute lari marathon (42 kilometer sekian). Pelari marathon saja bisa mandi keringat.
2. Naik kendaraan umum. Bagaimana bisa dia menyetop bus, memberhentikannya, dan menghapal nomor bus? Padahal dia belum bisa caranya. Belum bisa verbal, atau bicara pada orang lain dengan jelas atau bahasa yang mudah dipahami.
Kalau naik kendaraa umum dari Cibinong hingga Penggilingan, bisa lebih dari 5 kali ganti kendaraan, mulai dari ojek, mikrolet/angkot, sampai bus. Bagaimana bisa?
3. Ada yang mengantar. Pertanyaan besarnya, siapa?
Ketidakpercayaan ini muncul dari Bu Diana dan saudara-saudaranya. Mereka bahkan tidak memercayai yang tiba di Penggilingan itu benar Fay, sebelum mereka membuktikannya sendiri.
Maka, mereka pun dengan mengendarai 2 motor, mendatangi Penggilingan –daerah yang sama sekali baru bagi mereka, dengan menempuh 2,5 jam perjalanan.
Setelah bertemu langsung Fay, barulah mereka percaya itu Fay, tapi –lagi-lagi– pertanyaannya sama seperti kami, bagaimana bisa?
Untuk mengobati rasa penasaran warga kampung lainnya yang tidak turut serta ke Penggilingan, sekaligus sebagai bukti bahwa itu Fay, Fay dan Bu Diana pun difoto dengan kamera HP.
Pengakuan Fay
Kendati susah ditanya, Fay mau juga bicara atau menjawab pertanyaan kami, tentang bagaimana dia bisa tiba di Penggilingan. Jawabnya:“Berjalan, berlari, naik bis, naik mikrolet, sendiri.”
Ketika ditanya, dengan siapa Fay ke Penggilingan, dijawabnya: “dengan Fay!” (Maksudnya, dia sendirian).
Terus terang, susah untuk memercayai kebenaran pengakuan tersebut, tapi begitulah katanya. Dia sendiri yang mengatakannya.
Pada akhirnya, kami mengucap syukur pada Sang Maha Pelindung, yang telah melindungi Fay selama perjalanan, hingga tiba di Penggilingan tanpa kurang satu apa pun. Kami meyakini, ada Dia –mungkin dengan mengutus malaikat penjaga, untuk menjaga Fay selama perjalanan. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar!
Hikmah
Hikmah dari kejadian ini, kami harus lebih memperhatikan Fay, lebih waspada, lebih care, lebih menyayanginya, agar kejadian ini tidak terulang lagi. Kami tak mau berharap keberuntungan untuk kedua kalinya. Mudah-mudahan kejadian ini pertama kali dan satu-satunya. Aamiin.

Labels: , , , ,

Wednesday, September 26, 2012

Fay Kemping di Bawah Pepohonan Rindang

Kemping bersama teman-teman sekolah menjadi kegiatan luar ruang yang sangat disukai Fay. Pada tanggal 25 sampai 27 September 2012, BiZSmart --sekolahnya Fay-- menggelar kegiatan kemping sambil berwisata ilmiah di Kebun Wisata Ilmiah (KWI) Balitro (Badan Penelitian Rempah dan Obat) Cimanggu, Kota Bogor. 

Fay tampak senang sekali, karena ini bukan pengalaman pertamanya kemping. Ketika Fay masih bersekolah di SD Ruhama, dia sering ikut acara kemping di sekolahnya. Tampaknya, dia sangat menikmati berada di alam terbuka. Nggak tau tuh teman-teman, guru, dan pendampingnya. Soalnya --jujur saja-- ibunya pun seringkali dibuat bete oleh Fay, yang seringkali berkelakuan "sulit".

Di hari kedua Fay kemping, aku dan ayahnya menengok Fay di tempat kempingnya. Ternyata tempat kempingnya menyenangkan sekali. Terletak di tengah kota, tetapi lingkungannya serasa di hutan beneran. :D Menurut situs Kota Bogor, KWI Balitro Cimanggu luasnya 4 hektar, yang dirimbuni 276 jenis pohon/tanaman perkebunan atau tanaman industri.

Ternyata acara kemping bukan SMP Fay saja, melainkan bersama SD Kebon Maen "kelas tinggi" (kelas 4, 5, dan 6). Jadi suasananya rame.

Ketika kami datang, Fay dan teman-temannya dari SMP BiZSmart sedang melakukan pengamatan terhadap tanaman yang menjadi koleksi Balitro, dipandu guru-gurunya. Fay dan teman-temannya diperkenalkan pada aneka tanaman yang selama ini cuma dibaca di buku atau gambarnya dibrowsing di internet. :D

Beberapa saat kemudian, setelah kami mengamat-amati tanaman di sekitar tempat berkemah Fay, muncullah Fay bersama teman-temannya, dan Bu Nur --guru pendamping Fay. Setelah salim, Fay langsung menggeledahku, mencari-cari apa yang aku bawa untuknya. :P

Bu Nur menunjukkan tenda tempat Fay tidur. Fay masuk ke tenda dan difoto oleh ayahnya.
Kami tak lama di sana. Maklum, ayahnya Fay harus ke kantor walaupun berangkat sore-sore . Dari sana aku "dioleh-olehi" pakaian kotor Fay oleh Bu Nur. :P

Mudah-mudahan, Fay bisa tetap "bekerja sama" seperti kemping di malam pertama, biar kegiatan ini menjadi kegiatan yang menyenangkan, dan akan terus diikuti Fay --sepanjang guru pendampingnya memungkinkan untuk ikut kemping. :D

 Fay nemu kue di tas Ibu, lalu memakannya

Suasana perkemahan
 
 Suasana perkemahan

Fay di dalam tendanya

Ibu berpamitan; Fay masih semalam lagi kempingnya

Labels: , , ,