Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Wednesday, September 23, 2015

Ketika Ayah Tak di Rumah

Sabtu kemarin (19 September 2015), Ayah pergi ke Jatinangor-Sumedang untuk bereuni bersama teman-teman kuliahnya. Kemudian Ayah mengunjungi Kakek dan Nenek di Majalaya.

Fay sudah diberitahu tentang rencana perjalanan Ayah, semalam sebelumnya, sekaligus dia diberitahu kalau Ayah  akan pulang Senin pagi (padahal rencananya pulang Minggu malam. Untuk "amannya", dibilang Senin pagi, agar tak menunggu-nunggu hingga tidak tidur malam).

Sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi, Fay sudah sulit ditangani. Pasalnya, sejak Jumat siang, selagi terapi, Fay merusak jilbab yang dikenakannya, dan juga celana dalamnya, sewaktu di kamar mandi.

Konsekuensinya, Sabtu  itu Fay tidak saya izinkan nonton TV (termasuk acara K-Pop kesukaannya). Caranya, pesawat TV kumasukkan ke ruangan terkunci.

Padahal pada Jumatnya, Fay sudah mendapat konsekuensi, akibat perbuatannya merusak barang. Pada Kamis malam, pada jam tidur malam, Fay malah begadang sambil merusak celana panjang yang dikenakannya.  

Bukan hanya itu. Sehari sebelumnya (Kamis), Fay mendapat konsekuensi tidak nonton TV selama setengah hari (sampai jam 3 sore), akibat membolongi celana panjangnya yang lain.

Jadi, tiga hari berturut-turut, Fay mendapat hukuman tidak nonton TV. Padahal, satu hari saja mendapat hukuman/konsekuensi, Fay berontaknya luar biasa. Dia memaksa agar TV dikeluarkan, dengan cara menggedor-gedor pintu ruangan tempat menyimpan TV. Dia juga menarik-narik tangan saya sambil histeris.

Kebayang, hari ketiga mendapat konsekuensi yang sama, di saat Ayah tak ada di rumah!

Begitu Ayah berangkat pada Sabtu pagi, Fay mulai berusaha kabur ke luar, dengan berdiam di teras depan, menunggu lengah. Padahal sinar matahari sedang terik-teriknya. Untunglah pintu gerbang depan sekarang sudah bisa digembok. Pagar pun sudah cukup tinggi; tak mudah untuk dipanjat Fay begitu saja.

Ibu berhasil membuat Fay kembali masuk rumah, setelah diiming-iming dengan kripik singkong kesukaannya.

Sehabis makan siang,  Ibu lupa mengunci pintu dapur (juga aksesnya ke halaman depan), membuat Fay mudah menerobos ke luar, dan kembali nongkrong di teras. Terpaksa Ibu turut berada di halaman, sambil berkeliling memeriksa tanaman.

Menjelang magrib, Fay secara sukarela mau masuk rumah dan mandi. (Kebetulan kami sedang "berhalangan", jadi tidak sholat).

Malamnya, seperti rutinitas, pukul 8 malam Fay masuk kamarnya setelah sikat gigi, BAB/BAK. Kelihatannya dia bakal langsung tidur, soalnya sejak siang dia tampak mengantuk.

Tapi... apa yang terjadi?

Lewat tengah malam, Fay memanggil-manggil, entah minta apa. (Oya, pintu kamar Fay, demi kebaikan dan keamanannya sendiri, sewaktu tidur dikunci dari luar). Ibu biarkan saja.

Kalau ada Ayah, biasanya Ayah lah yang merespon, kemudian menghampirinya. Permintaannya biasanya hanya ingin tahu sekarang jam berapa (memperlihatkan jam di HP). Atau minta air minum.

Tapi teriakan Fay tak berhenti. Dia terus memanggil-manggil, berkali-kali, secara berkala sepanjang dinihari itu, dan Ibu menulikan telinga.

Terakhir, Ibu lihat jam 02.50 dinihari, dan Fay masih memanggil-manggil. Sejak itu, terdengar dia turun dari ranjang dan berlari-lari di kamar, juga menggedor-gedor pintu.

Ibu berdoa agar tetangga di kanan-kiri, juga di belakang rumah, tidak terganggu oleh keributan yang dibuat Fay. Tapi gedoran semakin keras, dan Ibu mulai khawatir pintu akan jebol.

Begitu azan subuh berkumandang, Ibu buka pintu kamarnya. Tadinya dikira Fay akan langsung mengambil air minum yang selalu tersedia di depan pintu kamarnya. Atau menerobos ke kamar mandi karena ingin BAK. Ternyata tidak!

Dia malah ambil sapu dan mulai menyapu lantai kamar dan ruangan lantai atas, setelah itu mandi.

Setelah mandi, dia  meminta alat pel sekalian dengan airnya di ember. (Oya, Fay sudah lama aku ajari menyapu dan mengepel). Rupanya, dia ingin menyapu/mengepel lebih pagi, agar pada Minggu pagi itu, Fay bisa menonton acara kesukaannya di TV; video klip lagu-lagu Korea (K-Pop).

Tinggal aku yang terkantuk-kantuk dan sakit  kepala. :( 

*Foto: aksi "goyang kipas" Fay saat nonton K-Pop kesukaannya.



Labels: , ,

Wednesday, August 15, 2012

TV Tuner


Aug 1, '11 6:27 AM

Sudah lamaaaaaaaaa sekali kami tidak memiliki TV. Entah sudah berapa tahun lamanya. Dulunya sih kami punya TV merk Sonny 17", hadiah dari uwanya Fay.
Suatu hari TV itu rusak dan kami membiarkannya teronggok begitu saja. Kami sengaja tak memperbaikinya karena waktu itu TV mempengaruhi kosa kata Fay --yang baru belajar bicara. Kosa katanya hanya kata-kata di iklan TV. Praktis, selama bertahun-tahun kami tak punya TV. Fay cuma bisa nonton TV kalau ke rumah Apih atau Uwa, atau Nenek dan Kakek di Majalaya. Meski begitu, kata-kata iklan Fay (misalnya: "Gak ada loe gak rame.") tetap saja diocehkannya.
Lama-lama aku haus hiburan juga, dan kebetulan bos suamiku meminjamkan TV tunernya (alat yang bisa "menyulap" monitor komputer menjadi televisi) yang sudah tidak baru lagi. Kami simpan di kamar kami dan menyetelnya kalau Fay sudah terlelap atau di sekolah. Tapi, ya ketahuan juga oleh Fay. Akhirnya Fay nonton juga sampai TV tuner itu rusak juga.
Lamaaaaaaaaaa juga setelah itu di rumah kami tak ada TV lagi. Nah menjelang Ramadan kemarin ini aku bilang ke suami kalau bulan puasa di Sasakpanjang susah kalau tak ada TV. Pasalnya muadzin di masjid kami suka-suka aja adzannya kalau bulan puasa. Biasanya  adzannya telat banget. Mungkin sebelum adzan mereka makan dulu. Bukan cuma minum dulu (membatalkan puasa), azan, baru makan. Mungkin karena mereka pikir semua orang punya TV, adzan di masjid cuma formalitas saja.
Tadi siang, setiba kami di Sasakpanjang, entah mengapa Fay mulai mengoprek-oprek monitor komputer (juga hadiah dari uwanya Fay) yang lama tak dipakai karena hardisk-nya rusak (siapa lagi yang mengacak-acak sistemnya dan mendelete data-datanya, kalau bukan dia sendiri).
Aku peringatkan berulang-ulang agar Fay tidak "menyentuh" monitor itu, agar nanti ketika ayah beli TV tuner baru, monitor itu bisa digunakan lagi dan kita bisa nonton TV. Tapi tetap saja Fay mencuri-curi usaha.
Sekitar jam 3-an suami meng-SMS, katanya dia sudah beli TV tuner. Aku kabarkan ke Fay, bahwa ayahnya beli tuner, dan nanti Fay bisa nonton TV lagi di rumah. Fay tertawa gembira.
Setelah ashar, Fay ke kamarku tempat monitor itu berada. Monitor itu diletakkan di atas meja setinggi satu meter. Sedangkan aku ke dapur untuk menyiapkan buka pusa.
Selagi aku mengiris bawang, terdengar sesuatu yang berat digeser, suaranya mendecit. Aku segera bergegas ke kamar, terlihat Fay sedang berusaha menjatuhkan monitor itu. Persis seperti yang dilakukannya dulu terhadap TV rusak kami. Bedanya, dulu TV itu memang sudah rusak dan TV dijatuhkan dari atas meja di ruang tamu.
Waduh! Fay, ayah sudah beli TV tuner, monitornya jangan dirusak biar Fay bisa nonton TV lagi. Kalau monitor itu dirusak, TV tuner yang dibeli ayah percuma saja!
Dibilangin gitu jawabnya sih iya-iya, tapi gak tau tuh beneran atau asal jawab saja. Dan aku tak tenang meninggalkaan Fay di kamarku sendirian. Eh di manapun Fay gak bisa ditinggalkan sendirian ding. Apa pun bisa dilakukannya. hiks...

Labels: , , ,