Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Wednesday, August 15, 2012

Hadeuh... Main api kompor lagi :(


May 11, '12 3:30 AM

Cuaca siang ini cukup terik, jadi cocok untuk menjemur pakaian yang sejak kemarin belum kering. Benar saja. Lewat tengah hari, jemuran pun sudah kering.

Aku lihat, Fay sedang asyik main komputer. Kupikir, mengangkat jemuran kering sebentar saja, Fay nggak bakal "macem-macem". Aku pun membuka pintu ke ruang jemuran. Baru mengangkat dua potong pakaian, Bu Tarman, tetangga sebelah rumah, datang menyodorkan undangan syukuran tetangga yang akan mengunduh mantu.

Aku pun masuk ke ruang tengah untuk menyimpan undangan itu. Begitu membuka pintu, tiba-tiba Fay melesat ke kamarnya. Aku ikuti dia. Ekspresi wajah Fay tampak mencurigakan; seperti baru saja membuat sesuatu yang terlarang. Aku cek ke kamar tempat laptop berada, tak kelihatan sesuatu yang aneh. Aku cek pakaiannya, tak ada bolong apa pun --yang biasa dia lakukan terhadap baju-bajunya.

Setelah aku desak, dia bilang: "Baju!" Aku tanya, "mana bajunya? ayo tunjukkan!" perintahku. Yang dimaksud adalah baju koyak yang sedang "digarapnya" (dikoyakin sedikit demi sedikit --itulah kegiatannya beberapa hari terakhir ini).
Ternyata, dia pergi ke dapur dan.... Astagfirullah!... Di atas kompor ada seonggok baju koyaknya yang gosong di atas kompor! Kenop kompor gas itu miring ke kiri, tapi tak ada api. Artinya, kompor itu sudah dinyalakan. Hanya tercium bau gas di seantero dapur. Hiks...

Sebenarnya tadi pagi aku sempat minta tolong suami untuk melepaskan regulator kompor gas. Sebab, dengan begitu, Fay tak bisa main api kompor, karena dia belum bisa memasangkan regulator elpiji.
Tapi setelah suami pergi ke kantor, regulatornya aku pasang kembali ketika Fay memintaku membuat teh hangat. Tapi aku lupa tak melepasnya lagi, karena tadi ketika regulatornya baru dipasang apinya susah menyala.
Hiks, menjaga Fay jauh lebih rumit dari menjaga anak batita (bawah tiga tahun) yang baru belajar berjalan dan segala di-explore, karena Fay begitu tricky, menunggu ortunya lengah.

Labels: , ,

Ingin Aku Percaya...


Jul 19, '11 11:16 AM

Tadi siang, aku menawari Fay makan siang. Di dapur sudah tersaji sayur labu dan lauk lainnya, hasil masakanku. Tapi Fay malah mau makan bakso dan mie. "Dengan indomie soto!" katanya, menyebut rasa dari mie instan itu secara spesifik. Karena Fay terus memaksa, dan aku lagi nggak mood berbantahan dengan Fay, maka aku pun ke warung untuk beli indomie. Sebelumnya, aku mewanti-wanti Fay agar tidak melakukan apa-apa, dengan asumsi, aku percaya Fay. "Duduk aja, jangan melakukan apa-apa." Pisau yang sebelumnya dia gunakan untuk memotong tali kur sudah kuamankan.
Setelah mengunci pintu rumah dari luar, berangkatlah aku ke warung. Beberapa menit kemudian, aku kembali. Di lantai tergeletak celana panjang putih miliknya. Ada bolong bekas tebakar dan baunya pun masih tercium. Aku cek ke dapur, api kompor sudah padam, hanya saja posisi tombolnya masih miring sedikit.
Ternyata, Fay tidak bisa "dipegang". Meski sudah kuwanti-wanti tidak melakukan apa  pun,  Fay malah membakar celananya sendiri. Mungkin sudah tidak dikehendakinya.
Aku pun menghukumnya, dengan tidak memberikan indomie yang dimintanya. Ketika aku bilang: "Fay, tidak boleh makan indomie!", Fay malah tertawa terbahak-bahak. Ia sama sekali tak menolak ketika aku beri makan siang dengan nasi dan sayur labu yang sudah kusiapkan.
Ayahnya,  ketika aku SMS, menyarankan agar aku membawa serta Fay ke warung, daripada berbuat yang aneh-aneh selama ditinggalkan di rumah sendirian. Tapi aku malas membawa Fay ke warung, karena banyak kemungkinan yang bisa terjadi di ruang terbuka. Misalnya, mengacak-acak warung, kabur, dll. Dan aku sudah tak muda lagi. Tenagaku tak sekuat Fay yang semakin besar, dan lariku tak sekencang Fay yang mulai remaja itu...
Jengkel, marah, kecewa, sedih, dan patah hatiku. Berkali-kali Fay "mengerjaiku"  begitu. Berkali-kali aku "kena" akal bulusnya. Itu mungkin karena di dasar hatiku yang paling dalam aku ingin percaya pada Fay.
Ibu ingin percaya Fay. Ketika Fay menginginkan sesuatu adalah memang itulah adanya. Bukan untuk mengalihkan ibu/ayah dan kemudian Fay melaksanakan niat yang sebenarnya. Hiks hiks hiks...

Labels: , , ,

Fay Bermain Api


May 25, '11 6:27 AM

Paling sebel, bingung, waswas, kalau Fay libur sehari dan berdua di rumah denganku.

Selasa, 24 Mei 2011, Fay harus di rumah bersama saya. Sehari sebelumnya, Fay ujian praktek memasak, sedangkan hari ini teman-temannya sesama kelas 6 pergi ke Dufan untuk acara perpisahan. Fay tidak ikut. Alasannya... ya gitu deh. Hehehe.

Seandainya Rabu (25/5) Fay tidak harus ke sekolah, kami rencananya mau ke Penggilingan, ke rumah ayahku. Biar aku tak kebingungan sendiri mengawasi Fay.

Tapi Bu Diana (guru pendamping Fay) meng-SMS. Katanya, hari Rabu masih harus ke sekolah, karena ada ujian baca Al Qur'an.

Terpaksa deh Fay berdua saya di rumah. Setelah ayahnya berangkat kerja, ada barang yang harus aku beli ke warung. Dengan hati waswas, aku pergi ke warung diam-diam, dan mengunci pintu dari luar. Fay tampak lagi asik bermain komputer di kamar.

Ketika aku kembali, kulihat Fay lari dari arah dapur terburu-buru ke kamar. Di tangannya ia menenteng lap yang sebagian hangus terbakar! Aku langsung ke dapur. Kompor gas sudah tak menyala, tapi tombolnya masih miring sedikit (terbuka). Hmmm... cape deh!

Selain itu, di lantai dapur berserakan pecahan mug yang kemungkinan sengaja dia banting. Ternyata, dorongan untuk memecahkah gelas masih besar...

Sebenarnya, sejak semalam waktu mati lampu, ada gejala dia mau bermain api lilin, dengan cara membakar kertas koran. Tapi dicegah ayahnya. Koran yang mau dibakar semalam itu, tampak teronggok di tempat sampah. Ada bekas terbakar di ujung-ujungnya.

Di keranjang baju kotor, ada topi lapangan SDIT Ruhama yang sudah lama dia ingin buang, juga terbakar di sana-sini.

Kalau udah gitu, rasanya hari panjaaaang sekali menunggu suami pulang. Padahal kalau sudah pulang nggak ngapa-ngapain juga. Cuma rasanya ada teman aja...

Rasanya kesepian banget. Padahal kalau lagi sendiri di rumah, malah saya nggak merasa kesepian.

Labels: , , ,