Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Friday, October 12, 2012

Fay dan Alas Kakinya

Dulu kami pusing karena Fay selalu membuang sepatunya sewaktu berada si atas boncengan motor ayahnya, sampai kami akhirnya membelikan sepatu sebetis dengan tali, seperti yang diceritakan di sini.

Setelah beberapa lama setiap hari memakai sepatu bertali sampai sebetis itu, ribet juga ya memakai dan melepasnya jadi lama. Setelah kelihatannya tidak berusaha lagi mencopot tali sepatunya, kami muncoba membelikannya alas kaki yang mudah dipakai-lepas.

Tapi ternyata muncul masalah lain. Kebiasaan membuang sepatu hilang, sekarang dia mulai menjulurkan kakinya yang memang panjang itu ke aspal, sampai ujung telapak kaki sepatunya menggesek aspal. Alhasil, alas kakinya itu bukan cuma tergores aspal, tapi sampai bolong!

Lamaaaaaaaa, aku biarkan saja dia memakai alas kaki yang bolong itu karena jengkel. Tapi karena semakin lama semakin besar bolongnya, akhirnya kami belikan juga yang baru.



 Awalnya alas kakinya yang baru itu aman-aman saja. Tapi sekitar semingguan ini suamiku bilang, Fay mulai lagi menggesekkan sepatunya ke aspal. Waduuuuh, sayang banget. Itu kan masih baru. Kelihatan jadi cacat deh sepatu baru Croc tipe jelly itu. Hiks!



Kemarin, sewaktu aku menjemput Fay dari sekolah, antara Citayam-Sasakpanjang, Fay juga menggesekkan alas kakinya itu ke aspal, tapi langsung berhenti ketika aku larang. Masalahnya ketika sedang mengendarai motor, kan kita konsentrasinya ke jalan dan motor, kadang tak menyadari apa yang dilakukan di boncengan. :(

Maka kami putuskan dengan berat hati, Fay harus bertukar sepatu dengan ibu. Kebetulan ukuran kaki kami sama, jadi tak ada masalah kalau kami bertukar alas kaki. Fay memakai sepatu ibu yang terbuat dari karet yang sudah jelek, terutama kalau lagi dibonceng motor. Dan aku memakai alas kaki Fay yang masih relatif baru. :P Sukurin deh...



Labels: , , ,

Wednesday, August 15, 2012

Harus Ada Yang Dibuang...



Sep 18, '10 6:36 AM
Tak ada angin tak ada hujan, Fay tiba-tiba minta burger. Maksanya sampai nyaris histeris. Padahal, kami tinggal di Sasakpanjang, sebuah kampung yang "jauh dari peradaban". Penjual burger terdekat, ya di Kota Depok, yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari rumah.

Wajar saja kalau ayahnya Fay malas mengantar Fay di siang yang terik itu (Sabtu, 24/7), ke Depok. Apalagi di akhir pekan, jalannya selalu macet. Akhirnya, dengan setengah hati, Ayah mengajak Fay memberi burger, seperti yang dimintanya sejak semalam sebelumnya.

Sewaktu mau berangkat, Fay di sakunya kedapatan membawa celana dalam dan BH. Buat apa? Nah ini yang memusingkan. Ini pula yang menjadi kebiasaan barunya: membuang-buang barang. Dicampakkan begitu saja di jalan, satu per satu. Terutama saat dibonceng Ayah, tanpa Ayah ketahui, karena sedang berkonsentrasi mengemudi motor.

Ya, setelah buku-buku ibu diberikan ke Bu Diana (guru bantunya Fay), dan kini diamankan di rumahnya, sekarang giliran baju-bajunya sendiri, pakaian dalam, juga saputangan yang dibuangnya.

Awalnya, ketika Fay mengalami batuk-pilek berkepanjangan, Ibu membekali Fay saputangan, saat pergi sekolah. Tapi, begitu pulang, saputangan-saputangan itu tak pernah kelihatan lagi. Ditanyakan, Fay tak bisa ditanyai. Ibu menyimpulkan, saputangan itu hilang karena dibuang di jalan. Apalagi, Ayah pernah memergokinya, saat motor melaju saputangan itu dilambai-lambaikan, lalu dilepaskan begitu saja.

Sejak itu, kalau Fay pergi sekolah atau ke manapun dibonceng Ayah, dia harus digeledah saku-sakunya. Biasanya menyimpan barang-barang kecil yang bakal dibuangnya di jalan, mulai dari lap, topi, sampai celana dalamnya sendiri yang masih baru. Waktu menginap di rumah uwaknya, Fay menyisipkan sebagian bajunya ke lemari sepupunya, dengan maksud membuangnya. Padahal, itu bukanlah pakaian usang. Hiks!

Kembali ke cerita siang tadi. Setelah Fay dan Ayah berangkat ke Depok, satu jam kemudian, ayah Fay telefon, katanya selagi mengisi bensin, Fay ketahuan membuang sebelah sepatunya. Sepatu crocks yang biasa dipakainya ke sekolah kalau hari hujan. Rupanya, ketika berhasil digeledah, dan tak ada barang yang mau dibuangnya, dia mengambil cara lain: membuang sepatunya sendiri.

Alhasil, saat itu juga Ibu meminta Ayah membatalkan rencananya memberi burger, dan kembali ke rumah di panas terik itu. Hitung-hitung hukuman baginya, karena sudah melakukan perbuatan yang tak selayaknya.

Labels: , , , , , , , ,