Amazing Fay

Catatan Harian Fairuz Khairunnisa'

Wednesday, August 15, 2012

Chef Fay


Jun 11, '12 2:41 AM

Lebih dari sebulan ini Fay tak lagi bersekolah, karena shadow teacher (guru pendamping)-nya cuti melahirkan, dan kami belum juga menemukan gantinya. Tanpa guru pendamping, Fay susah untuk bersekolah, dan sekolah pun tak mengizinkannya. Dan sudah sebulan pula ayahku, apihnya Fay, masuk rumah sakit, tak lama setelah asisten di rumah beliau mengundurkan diri.

Sewaktu Apih di rumah sakit, aku tak bisa maksimal menemaninya, karena Fay tak bersekolah. Sewaktu terakhir kali ayahku masuk rumah sakit, aku masih bisa menjenguknya dan menemaninya setiap hari, selama jam sekolah Fay.

Kemarin ayahku pulang dari rumah sakit. Kami memutuskan, sementara ini tinggal di rumah beliau karena tak ada yang merawatnya di siang hari kalau adikku bekerja.

Tadi pagi aku masak sayur sop, dan Fay sibuk mengincar pisau yang sedang aku gunakan. Sepertinya dia berencana bermain-main dengan pisau (mengoyakkan baju yang memang sudah koyak sebelumnya).

Daripada aku tidak fokus karena harus memperhatikan masakan dan Fay, aku karyakan saja.

Fay aku suruh memotong-motong sayuran. Dia asyik mengerjakannya, karena pada dasarnya dia sudah bisa memotong, dan cukup perfeksionis. Setelah selesai memotong-motong sayuran, dia mulai ribut lagi.

Terus aku suruh dia menumis bawang, masukkan jamur, beri air, masukkan sayuran yang agak keras dulu, lanjut dengan sayuran yang mudah lunak. Sip, selesai deh masakan pertama Fay.



Fay berpose dulu selagi mengiris jamur


Konsentrasi penuh, biarpun ngirisnya beda potongannya dengan ibu 



Menumis jamur with style.

Sudah mateng belum ya?

Labels: , , , ,

Akhirnya, Bisa Juga Bermotor ke Sekolah


Oct 11, '11 10:51 AM

Senin sore, suami mengabarkan mendapat tugas meliput ke Bandung, dari Rabu hingga Kamis. Berita yang mengejutkan bagiku, karena bertugas ke luar kota selama dua hari. Waduh, itu kan hari sekolah Fay. Padahal, selama ini yang mengantar-jemput Fay, ya ayahnya. Aku paling stres kalo Fay mendapat libur sekolah. Ya, bingung mau ngapain berdua saja dengan Fay. Lagi pula Fay di sekolah melakukan kegiatan yang makin menarik. Misalnya, setiap Kamis ada pelajaran teater, hari Rabu ada prakarya. Fay diharuskan membawa kaleng bekas kue dan bekas botol air mineral, untuk dibuat sebuah karya.
Pokoknya, Fay harus tetap sekolah! Langsung saja aku mengusulkan pada suamiku, agar aku bisa belajar langsung mengendarai motor ke sekolahnya Fay di hari Selasa. (Sebelumnya, aku sudah bisa mengendarai motor, tapi sebatas di jalan kampung atau jalan yang tak terlalu ramai). Kami pun konvoi. Ayahnya Fay menggunakan si Tornie, sedangkan aku mengikuti dari belakang pake si Beaty, untuk mengantar dan menjemput Fay sekolah. Paginya, Fay dibonceng ayahnya, aku mengikuti dari belakang tanpa penumpang. Sedangkan sorenya kebalikannya, suamiku di depan tanpa penumpang, sedangkan aku mengikuti sambil membonceng Fay.
Rencana itu pun kami jalankan. Tetapi ternyata prakteknya tak semudah bayanganku...
Pagi-pagi, jam 06.00 kami sudah berangkat, padahal biasanya Fay berangkat sekolah jam 07.00. Jam keberangkatan sengaja dimajukan satu jam, sebagai antisipasi agar Fay tidak telat masuk sekolah. Pasalnya, kecepatan aku menjalankan motor, tak lebih dari 40 kilometer per jam, alias pelan-pelan. Alhamdulillah, perjalanan lancar, malah kami tiba lebih awal lebih dari setengah jam.
Selesai mendrop Fay di sekolahnya, aku bermaksud pulang dulu ke rumah, untuk kembali ke sekolah menjemput Fay pada jam 2 siang. Dari sekolah, aku dikawal sampai Hek Citayam. Dari sana aku sendirian melanjutkan perjalanan ke rumah, karena jalur itu sudah biasa aku lalui. Jadi aku merasa pede pulang sendirian. Sedangkan suami langsung berangkat ke kantor.
Sampai di rumah, jam menunjukkan angka 10-an kurang. Aku langsung mengerjakan pekerjaan rumah yang tertunda: mengepel, mencuci baju, belanja, masak, serta menyetrika. Begitu selesai, jam sudah menunjukkan jam 11.50. Aku langsung maksi, sholat dzuhur, dan langsung siap-siap mengeluarkan si Beaty. Kali ini aku sendirian ke sekolah, karena suamiku langsung dari kantor ke sekolah. Perutku langsung mulas-mulas membayangkan aku akan sendirian menempuh perjalanan 21 km degan segala rintangannya. Alhamdulillah, aku pun tiba dengan selamat jam setengah dua di sekolah Fay. Masih banyak waktu sebelum Fay pulang jam 14.00-an.
Tak lama kemudian suamiku tiba. Dan setelah sekolah Fay bubar, dimulailah perjalanan yang melelahkan itu.
Seperti rencana, aku yang membonceng Fay. Wadawwwww, sepanjang jalan Fay gak bisa diam bo... Miring ke kiri, miring ke kanan, ke belakang, mendesak ke depan... Pegel maaakkk... Karena tangan harus menahan setang yang terguncang begitu Fay pindah posisi dengan mendadak...Keseimbangan motor terganggu, yang aku antisipasi dengan memegang setang erat-erat. Alhasil, sampai rumah badan serasa remuk redam. Jempol tangan kanan sampai mati rasa.
Melihat begitu suami mengusulkan agar besok gak usah naik motor, saat mengantar Fay ke sekolah. Naik angkot saja. Biarlah terlambat tiba di sekolah, asal selamat.  Lagi pula aku jadi gak pede kalo ngeboncengin Fay tanpa pengawalan suami. Tadi, aku sempat jatuh di tikungan patah gang sempit dekat SD Ruhama, dan hampir jatuh juga di mulut Gang Haji Dul, Pondok Terong. Iya deh, meski dua hari ke depan banyak pekerjaan menumpuk yang tidak tertangani.
Tapi sebenarnya Fay nggak terlalu bertingkah di motor. Dia cuma sekali minta dibelikan minuman, yang langsung aku tolak. Dia juga rupanya tahu aku belum begitu mahir. Jadi begitu aku teriak, "Fay, jangan miring!" dia nurut. Tapi nggak lama. Fay miring-miring juga.
Anyway, terima kasih atas kerja samanya, Fay.

Labels: , , ,

Shakespeare Disobek-sobek Fay


May 1, '11 11:28 AM

Sabtu,30 April 2011. Kami bertiga sedang di Penggilingan, menemani Apihnya Fay yang sudah pulang dari RS. Ia sudah dibolehkan pulang sejak Kamis lalu. Kami menginap di sana.

Malamnya, setelah Fay masuk kamar tidur, lampu kamar tidur pun dimatikan. Sesuai kebiasaan Fay yang tidur sambil bergelap-gelap di kamar sendirian. Kami mengira, saat itu Fay sudah terlelap.

Sekitar jam 10-an, adikku lewat kamar Fay --yang dulunya kamarku (jadi masih terdapat banyak buku koleksiku). Dia mendengar suara srek, srek. Suara kertas disobek-sobek. Bunyi itu terus berkesinambungan. Padahal, lampu kamar tetap gelap.

Ketika suamiku membuka pintu kamarnya dan lampu dinyalakan... Ya Allah, Fay ternyata sedang menyobek-nyobek buku Shakespeare-ku! Huwaaa! Hiks, hiks! crying

Fay sedang asik menyobek-nyobek berlembar-lembar halaman awal buku kesayanganku itu jadi serpihan kecil-kecil. Padahal buku ini aku beli sewaktu aku masih gadis, waktu belum kenal dengan suamiku.

Buku setebal bantal (ribuan halaman) ini aku beli lewat pos dari "Book of The Month Club", langsung dari Amerika, tahun 1996. Aku masih ingat harganya, 32 dolar Amerika (coba dikurs ke rupiah, berapa tuh harganya sekarang).

Waktu itu, aku masih bekerja di Museum Kehutanan Manggala Wanabakti. Aku dan dua kawanku --tiga cewek penjaga museum-- diperkenalkan ke "Book of The Month Club" oleh Pak Pur, dosen IPB yang menjadi konsultan masalah perkayuan dan kehutanan di museum kami.

Setelah diamat-amati, buku korban Fay itu kehilangan bab "Introductions" yang terbilang penting. Bagian pengantar yang panjang lebar (lebih dari 10 halaman) itu, mengantarkan pembaca untuk memahami kumpulan karya klasik Shakespeare, yang terbilang rumit itu (bagi pemula).

Yah, bagaimana lagi, "nasi sudah menjadi bubur." Aku terhenyak, dan diam. Menangis pun sudah tidak ada air mata lagi. Suamiku mencoba menghiburku, kalau punya rezeki, masih bisa "memburu" buku itu, kalau perlu ke tempat asalnya. 

Labels: , , , ,

Apa pun Yang Terjadi, Ku Kan Slalu Mencintaimu…


Feb 8, '11 9:34 PM

Sebelum aku menikah, aku kurang sekali berinteraksi dengan anak-anak. Maklum, aku tak punya keponakan yang masih kecil. Kerabat keluargaku yang punya anak kecil berada di kota lain. Jadinya jarang bertemu mereka. Secara kebetulan pula, aku tak pernah punya tetangga yang punya anak kecil yang bisa diajak bermain-main. Mungkin itu sebabnya aku kurang pandai berkomunikasi dengan anak-anak.

Namun setelah menikah dan memiliki anak, aku jadi intens mengurus anakku ini. Aku mulai membiasakan diri berinteraksi dengan anak. Oya, aku menikah di usia 30, dan tanpa jeda terlalu lama aku hamil. Awal tahun 1998, kami dikaruniai bayi perempuan yang cantik, lucu, dan anteng. Rambutnya bagus, lurus dan tebal. Kami langsung jatuh cinta padanya. Fay, nama anakku itu, segera menjadi anak kesayangan sekeluarga; kedua orangtuaku dan adik laki-lakiku. Padahal Fay sebenarnya bukan cucu pertama dari orangtuaku. Tapi karena kakak sepupu Fay yang lebih tua setahun itu tinggal jauh di Kalimantan sana, Fay serasa cucu pertama bagi kedua orangtuaku.

Pada awalnya, Fay (yang bernama lengkap Fairuz Khairunnisa) tidur terus menerus, sampai susah diberi minum ASI. Namun tak lama kemudian, polanya berubah, ia jadi jarang bisa tertidur lelap. Siang dan malam! Sampai aku kelelahan dan badanku kurus kering.

Sejak menikah, aku berhenti bekerja. Jadi waktuku banyak digunakan untuk mengurus dan memerhatikan tumbuh kembang Fay. Aku juga punya banyak kesempatan menonton TV, yang entah kebetulan seringkali menayangkan acara yang berhubungan dengan tumbuh kembang bayi dan balita.

Sejak melek atau mulai melihat, aku mencurigai ada sesuatu yang berbeda dari Fay. Kalau ibu-ibu lain saling bertatapan dengan bayinya ketika menyusui, itu tidak terjadi padaku. Dia sama sekali tak mau menatap mataku. Dia tak mau menoleh ketika dipanggil-panggil, bahkan tak mau menatap mataku kendati kapalanya kusangga dan ditengadahkan tepat ke wajahku untuk bertatapan. Tapi seolah tak ada reaksi sama sekali. Aku waktu itu sampai mengira Fay buta dan tuli.

Semakin lama semakin banyak kelainan yang kurasakan. Fay tidak melalui tahapan merangkak, dan yang paling mencolok, saat usianya melewati satu tahun, Fay belum juga mengucapkan satu patah kata pun yang bermakna, seperti "ayah" atau "ibu". Telapak tangannya sering dikepak-kepakan (flapping), seperti gaya penyanyi Alm. Nita Tilana saat bernyanyi. Fay juga sering berjinjit, dan senang berputar-putar sambil tertawa-tawa.

Fay juga tak bisa bermain secara normal sebagaimana anak lain. Tidak bisa bermain pura-pura (pretend playing), seperti bermain masak-masakan, bermain boneka-bonekaan, dan lain-lain. Permainan kesukaan Fay adalah menderet-deretkan benda-benda menjadi satu barisan teratur.

Singkat cerita, di usia dua tahun, Fay didiagnosis menderita autisme. Sejak itulah, kami bolak-balik ke RSCM untuk menerapikan Fay sekaligus mengonsultasikannya pada dokter ahli psikiatri anak. Selain mendapat terapi di klinik, di rumah aku juga menambal jumlah jam terapi yang hanya dua jam seminggu dua kali itu.

Terapi di rumah tidak sampai delapan jam per hari, sebagaimana disarankan, tapi rata-rata enam jam per hari. Juga tidak secara marathon, melainkan dibagi tiga termin sehari, masing-masing dua jam. Aku juga, dibantu suamiku, membuat alat-alat bantu terapi berupa kartu-kartu. Kartu-kartu dari tripleks itu berisi macam-macam, mulai dari huruf, kata, hingga gambar benda-benda dan binatang, sesuai dengan perkembangan usia Fay.

Hingga usia enam tahun, Fay mendapat terapi di RSCM. Saat duduk di TK, Fay pindah tempat terapi ke sebuah klinik di Depok. Kebetulan, di kedua tempat terapi tersebut (RSCM dan Depok), para terapisnya memintaku menyaksikan proses terapi, sehingga aku bisa mengulangnya di rumah.

Ternyata autisme yang disandang anakku ini menghabiskan seluruh energiku. Bagiku terlalu banyak yang harus diajarkan, terlalu banyak yang harus dikoreksi, terlalu banyak harus dijaga konsistensinya. Juga terlalu banyak yang harus diulang.

Perkembangan Fay bisa dikatakan, maju selangkah, mundur tiga langkah! Bukan kelelahan fisik saja yang kualami. Kelelahan mental, kelelahan pikiran, dan menguras keuangan pula. Hiks... Padahal kesabaran bukanlah salah satu sifatku. Orang-orang terdekat dan para sahabat pasti tahu kalau aku sama sekali bukan orang penyabar. Maka bagiku, ini adalah ujian terberat dalam hidupku.

Seringkali aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa Allah menitipkan Fay kepada perempuan penjengkel seperti aku ini. Seringkali juga aku berdoa agar aku diberi kesabaran lebih banyak lagi. Agar Fay mempunyai ibu yang lebih sabar dan lembut. Tapi justru mungkin inilah ujian yang harus dihadapi. Apalagi hambatan utama Fay adalah masalah komunikasi. Kami jadi tidak saling memahami, tidak tahu apa maunya Fay, dan Fay pun tidak tahu apa mauku. Aku merasa jadi ibu paling buruk di dunia.

* * *

Tanggal 26 Februari 2011 ini, Fay tepat berumur 13 tahun. Sudah aqil baligh, karena mulai Jumat, 9 Juli 2010, secara fisik Fay resmi menjadi wanita. Fay mulai mendapat menstruasi. Tapi mentalnya belum. Masih kekanak-kanakan. Mandi saja masih harus diawasi agar tidak melakukan hal-hal yang tidak semestinya, semisal menyikat lantai kamar mandi dengan sikat giginya sendiri. Selain itu, juga mencegah jangan sampai Fay keluar kamar mandi sambil bertelanjang, karena belum mengenal rasa malu.

Ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan!

Apalagi tahun ini Fay sudah kelas 6 SD, dan sebentar lagi masuk SMP. Hingga saat ini, kami masih belum juga menemukan sekolah yang mau dan mampu menampung anak berkebutuhan khusus seperti Fay. Dan yang terpenting, sekolah yang bayarannya sesuai dengan ukuran kantong kami.

Seperti de javu saja. Karena dulu ketika Fay mau masuk SD pun, kami mengalami kesulitan serupa. Di usia 7,5 tahun, Fay kami titipkan di SD negeri di dekat rumah kami. Kebetulan guru kelasnya tetangga blok rumah. Beliau bersedia mengajar Fay di kelasnya, dengan catatan, aku ikut duduk mendampingi di sebelah Fay untuk mengawasinya. Jadi, benar-benar dititipkan saja tanpa target apa-apa. Setahun penuh itu aku seolah kembali bersekolah di kelas satu SD. 

Sebenarnya, tahun itu kami sudah menemukan sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu); SD swasta yang menerima dan mempunyai program untuk anak kebutuhan khusus. Tapi entah mengapa, psikolog tempat kami berkonsultasi meminta kami untuk menunggu dulu selama setahun, dan kami menitipkan Fay ke sekolah negeri itu.

Tepat setahun kemudian, masuklah Fay ke SDIT yang lokasinya jauh dari rumah kami, yakni satu jam perjalanan dengan sepeda motor. SDIT itu menerima anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama anak-anak normal, satu kelas maksimal satu anak. Tapi ternyata Fay tidak diizinkan langsung masuk kelas 2, meski di SD negeri Fay sudah naik kelas. Kami menerima juga syarat itu. Yang penting Fay bisa sekolah di tempat yang tepat.

Kehebohan mencari sekolah ini berulang lagi menjelang Fay lulus SD ini. Hingga sekarang belum ada kepastian, Fay mau disekolahkan di mana. Berkaca dari kemampuan Fay menerima pelajaran di SD, aku sebenarnya ingin Fay sekolah di sekolah yang berbasis live skill, agar Fay bisa menerima pelajaran secara maksimal. Fay pun tak perlu belajar hal-hal yang memang tak mampu dilakukannya, karena keterbatasannya.

Pelajaran yang tidak mampu Fay cerna dengan baik, semisal PKN, IPS, dan Bahasa Indonesia. Tapi yang penting, Fay sekolah, walaupun tidak di sekolah yang kriterianya diinginkan orangtuanya. Agar Fay punya bekal, sesedikit apa pun dia dapatkan di sekolah...

Satu-satunya pelajaran yang mampu Fay pahami dengan baik hanyalah matematika. Nilai Fay cukup tinggi dibanding teman-temannya. Cuma kalau sudah menyangkut soal cerita, Fay mengalami kesulitan. Itu pula lah yang aku tanyakan pada salah seorang pembicara seminar mengenai pendampingan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di UNJ, yang aku ikuti, belum lama ini.

Narasumbernya Ibu Julia, yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus. Beliau menjawab pertanyaanku dengan lugas, bahwa anak autis yang terlambat bicara mempunyai IQ yang rendah. "Paling-paling Cuma 70-an," katanya. Kendati anak itu sangat kelihatan mudah sekali menyelesaikan soal matematika, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan masalah.

Contoh sederhana, dia tidak bisa berbelanja ke warung. Meski dia bisa menghitung jumlah nominal uang. Tapi ketika ditanya berapa uang kembalian yang harus dia terima, dia tidak memerdulikannya. Padahal, kalau diberi soal, misalnya Rp 5.000 - Rp 1.500, dia akan dengan mudah menjawabnya. "Seperti dalam film Rainman (film tentang penyandang autisme, yang dibintangi Dustin Hoffman dan Tom Cruise –Pen.),” tambahnya.

Aku menerima penjelasannya dengan tenang dan duduk kembali. Padahal, sebenarnya sekujur tubuhku seolah-olah dialiri perasaan dingin. Tadinya aku berharap, Fay mempunyai IQ yang cukup tinggi. Bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan agar kemampuannya itu bisa membantu dirinya sendiri dalam mengatasi kekurangannya.

Hasil seminar itu aku diskusikan dengan konsultan anak berkebutuhan khusus di sekolah Fay. Lalu dibuatlah jadwal bagi Fay utuk mengikuti tes psikologi. Memang selama ini Fay belum pernah dites psikologi. Psikiaternya dulu menyarankan untuk menundanya, karena khawatir aku kecewa melihat hasilnya. Oh ya, seharusnya aku sudah bisa menduganya.

Hasilnya, "Fay memiliki kemampuan intelektual yang berada pada taraf slow learner (skor IQ: 83), kemampuan pemahaman performance lebih tinggi tiga kali lipat dibandingkan dengan kemampuan verbalnya. Kemampuan koodinasi visual motorik, memproduksi pola abstrak, dan konsentrasi, setara dengan anak usia 18 tahun. Namun kemampuan pemahaman terhadap pengetahuan umum dan pemahaman terhadap persoalan, setara dengan anak usia 7 tahun.

Memang, Low Average (di bawah rata-rata manusia normal), tapi tidak serendah perkiraan Ibu Julia. Lega kah? Atau kecewa? Tidak dua-duanya. Alhamdulillah, aku dan suamiku, menerimanya dengan ikhlas. Sebab itulah faktanya. Itulah Fay! Dan aku mencintai Fay. Dulu, ketika baru lahir, sekarang, hingga nanti...

Aku sudah berusaha semaksimal yang aku tahu, semaksimal yang aku mampu. Dan aku akan terus berusaha, agar Fay bisa mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri. Agar setelah aku dan ayahnya Fay tak ada, Fay bisa hidup secara layak dan bermartabat sebagaimana manusia.

Tugasku kini hanyalah membekali Fay, memberinya bekal agar kelak sepeninggal ayah dan ibunya, Fay bisa mandiri, bisa punya penghasilan sendiri, untuk menghidupi dirinya sendiri. Karena aku ingin Fay hidup layak sesuai martabat kemanusiaannya.

* * * * *

Catatan: tulisan ini diikutkan dalam Sayembara Menulis QultumMedia

Keterangan foto:

Atas: Fay sewaktu bayi [Tian Arief]
Bawah: Fay setelah masuk SD [Wahyu Wibowo/Wib]

Labels: , ,

Wednesday, March 02, 2011

Fay dan Ibu, 26 Feb 11

Tepat di usia 13 tahun, Fay, Ibu, dan Ayah bersiap-siap ke SDIT Ruhama. Bukan untuk merayakan ulang tahun di sekolah Fay itu, melainkan untuk menghadiri pertemuan tiga bulanan para orangtua ABK (anak berkebutuhan khusus).
Cerita tentang isi pertemuan bisa dibaca di sini.



Labels: ,